Langsung ke konten utama

Moment Reuni


Teman, ini tentang reuni atau temu kangen kata banyak orang.

Kita, kamu dan saya mungkin sudah tidak asing dengan istilah reuni.

Seseorang bisa mendapatkan self esteem. Karena saat reuni, kita pasti bertemu dengan teman-teman lama yang tentunya tahu sifat kita dulu.

Ini bukan dalih, tapi patut direnungkan. Manfaat reuni adalah salah satu jalan untuk menyambung dan memelihara tali silahturahmi.

Tetapi seringnya reuni digunakan sebagai ajang pamer. Inilah yang membuat sebagian orang tidak suka menghadirinya. Ada saja orang yang akan membangga-banggakan dirinya dalam acara reuni. Tetapi ada juga yang sebenarnya bisa datang reunian, tapi malu karena belum sukses secara materi atau malu karena masih jomblo, benci menjawab pertanyaan "Kapan nikah?" dan pertanyaan sejenisnya.

Walau begitu, secara pribadi saya salut pada para panitia reuni. Kok mau maunya sibuk mengurusi segala tetek bengek keperluan reuni.

Sejujurnya, saya tidak terlalu suka dengan reuni akbar sekolah atau semacamnya. Saya lebih suka reuni mini, kumpul-kumpul dengan teman lama yang  paling akrab. Karena itu lebih murni, sejati, tanpa polesan. Tapi semua tergantung pada niat masing-masing orang. Jelas gak asyik kalau niat datang ke reuni pingin pamer. Tapi itu urusanmu sama hidupmu, saya ga peduli  yang penting ora gelut hehehe...

Reuni akan bermanfaat, reuni akan sehat dan positif, bila kita tidak egois. Tidak usah mikir yang macam-macam tentang reuni. Tidak usah memakai jaket "kekinian" untuk mengenang masa lampau. Tidak usah bawa-bawa pangkat, jabatan, harta atau status sosial. Harus disepakati bahwa reuni atau temu kangen berarti "melepas" jaket KEAKUAN dalam pertemanan. Berteman adalah Kita, Kamu dan Aku bersama-sama. Itu saja.

Reuni cukup dengan spirit Datang Kumpul Kenang Ketawa. Sebenarnya ada beberapa alasan agar reuni kita sehat dan positif, bukan malah sebaliknya.

Ingat, kita bukan siapa-siapa dan kita bukan apa-apa. Maka peliharalah TEMAN atau PERTEMANAN kita. Karena kita adalah HOMO HOMINI SOCIUS manusia adalah kawan bagi sesama.

Dan penting buat kita, A good friend is like star. You can not always see it, but you realize it will always be there - Teman itu layaknya bintang. Kamu memang tidak selalu bisa melihatnya tapi percayalah mereka selalu ada.

Mari kita meluruskan niat baik dalam berteman dan menikmati pertemanan kita

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...