Langsung ke konten utama

Masa Lalu


Masa lalu memang menyimpan banyak kenangan. Masa lalu tidak dapat dilupakan begitu saja, karena setiap hal yang dilewati akan meninggalkan jejak yang tak mungkin terhapus.

Ketika kita menganggap masa lalu itu pahit, mungkin justru banyak kenangan manis di dalamnya yang tidak ingin kita tinggalkan sehingga kita lupa bahwa semua bisa berubah.

Kita bisa tersenyum mengingat kenangan lalu. Yang mungkin meninggalkan luka, membuat menangis, sedih dan kecewa. Bisa jadi ketika mengingatnya kembali kita bisa mentertawakan peristiwa itu.

Untuk masa lalu yang meninggalkan luka, memang butuh waktu yang tidak sebentar untuk menyembuhkannya.

Tapi bagaimanapun kita harus berusaha dan belajar untuk move on. Pun belajar memaafkan. Belajar mengontrol diri, bahwa tidak semua yang kita inginkan bisa kita lakukan.

Masa lalu akan tetap ada dalam diri kita. Masa lalu adalah bagian dari hidup kita. Meski kita tidak hidup di masa lalu, melainkan hidup di masa sekarang, namun tanpa masa lalu, kita tidak sampai di masa ini  begitu juga di masa depan. Kelak masa ini akan menjadi masa lalu di masa depan kita.

Mari belajar berdamai dengan hati kita, sebab masa lalu ibarat cermin yang sewaktu-waktu kita perlukan. Kita bisa mengingat semua kenangan, tetapi kita juga bisa belajar memahami dan memaknai setiap hikmah yang disampaikan oleh Yang Kuasa melalui setiap peristiwa yang diijinkan terjadi dalam hidup kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...