Langsung ke konten utama

Catatan Perjalanan Sebuah Amanah

Ketua RT atau Rukun Tetangga merupakan pemimpin yang dalam struktur pemerintahan adalah yang paling dekat dengan masyarakat. Urusan yang diurus oleh ketua RT mulai dari pendataan, pengaduan, urusan kematian dan masih banyak lagi lainnya.

Desember 2016, suami dipilih menjadi ketua RT oleh warga RT 17 Perumahan Puri Bagus Krian. Dipilih melalui pemilihan langsung yang tidak melalui berbagai tahapan dan sistem kampanye dan tidak mengeluarkan biaya sama sekali. Berbeda jauh dengan pemilihan kepala desa, bupati/walikota.

Perjalanan suami menjadi ketua RT memang masih beberapa bulan, namun itu menghasilkan catatan tersendiri dalam kehidupan kami, khususnya saya sebagai istri yang memimpin PKK di RT kami. Memimpin masyarakat dengan latar belakang budaya, pendidikan, pekerjaan yang berbeda-beda memberikan pengalaman suka duka. Honor yang diterima.... tak ada kawan. Kami tidak menerima honor. Kami bekerja dengan cuma- cuma alias tanpa dibayar, demikian juga dengan rekan-rekan kerja kami seperti wakil, sekretaris, bendahara dan seksi-seksi dalam kepengurusan kami (RT maupun PKK).

Beberapa hari sebelum pelantikan oleh kepala desa, suami sempat mengajukan pengunduran diri kepada panitia pemilihan dan juga kepada kepala desa, namun alasan yang masuk akal disampaikan oleh panitia maupun kepala desa yang membuat suami mau tidak mau harus menjalankan amanah warga.

Dalam pengamatan saya sepanjang pemilihan yang lalu, dalam pemilihan ketua RT kala itu, banyak orang yang menolak untuk dicalonkan entah karena alasan apa.

Secara logika, jika ketua RT adalah suatu pilihan warga yang dipilih secara demokrasi dan dipilih oleh warga dengan suara terbanyak, tentunya nanti akan berjalan dengan baik dan bisa lebih baik dari tahun lalu. Jadi, harapan kami adalah bahwa kami bisa memimpin dan membawa RT 17 lebih maju dan kegiatan-kegiatan lebih bagus. Tentunya akan membahagiakan jika masyarakat lebih maju, lebih rukun dalam kegiatan yang positif, semua bisa berjalan baik dan lancar, dan warga sebagian besar ikut dan berpartisipasi.


Goal yang kelihatannya sederhana tapi tidak sesederhana kelihatannya itu, bukan hal mudah dalam aplikasi di lapangan. Dalam upaya mencapa goal, ada beberapa hal yang sudah kami lakukan yaitu pembenahan struktur kepengurusan PKK dengan penambahan pengurus seperti wakil, sekretaris, bendahara, seksi keagamaan dan gotong royong, seksi pendidikan dan ketrampilan dan simpan pinjam, seksi kesehatan dan lingkungan hidup. Pembenahan administrasi dengan kewajiban membuat LPJ tahunan, serta notulen di setiap pertemuan. Kegiatan yang sudah terlaksana,  yang berasal dari periode kepengurusan sebelumnya adalah arisan, simpan pinjam dan pengajian, tetap kami teruskan. Untuk posyandu yang sedikit terabaikan, kami upayakan untuk mengejar ketinggalan dengan menyambung kembali hubungan yang terputus dengan pengurus dan kader posyandu agar kami dapat mengikutsertakan setiap balita, ibu hamil maupun lansia dalam lingkungan RT 17 untuk mendapat pelayanan di posyandu. Selain itu usaha penyebaran informasi kesehatan dengan mendatangkan nara sumber yang berkompeten. Kali ini saya beruntung, mempunyai teman seorang apoteker yang bisa dijadikan nara sumber gratis untuk informasi penggunaan obat 😊. Juga ada kegiatan memilah sampah untuk disetorkan ke bank sampah. Kegiatan ini menjadikan kami nasabah pertama bank sampah desa. Dan diharapkan ini bisa menggerakkan kelompok-kelompok atau perseorangan untuk menjadi nasabah bank sampah juga 😊. Ada juga kegiatan bertanam. Yang satu ini memang masih belum nampak hasilnya. Sedangkan di tingkat RT, ada pembenahan dan penambahan dalam struktur RT yaitu seksi keamanan dan ketertiban serta seksi sarana dan prasarana. Kegiatan dalam lingkup RT selain kerja bakti yang sudah menjadi tradisi, yang terkini dan baru adalah buka bersama anak yatim. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka bulan Ramadhan. Sukacita kami adalah bahwa kegiatan ini diikuti oleh mayoritas warga dengan antusias, meski tentu saja masih belum sempurna dalam pelaksanaannya.


Saat ini kami (dengan ijin Tuhan) sedang menggagas program-program selanjutnya. Sekali lagi, goal yang kelihatannya sederhana itu, tidak sesederhana kelihatannya. Kadangkala orang menganggap remeh tugas dan kewajiban kami. Menganggap kami seakan tidak ada bagusnya. Dikala tidak ada persoalan dilupakan, giliran ada masalah, di mana pun kapan pun di cari.

Hhhhh... sudahlah... harapan kami yang terutama adalah semoga kami bisa membawa kebaikan dan apa yang akan kami lakukan kedepannya untuk RT 17 diperhitungkan menjadi kumpulan harta di surga bagi kami, tempat di mana ngengat dan karat tidak merusaknya dan pencuri tidak membongkar dan mencurinya. Semoga RT 17 RW V bisa menjadi lebih baik.

Note: mengapa dalam tulisan ini sekaligus mengulas mengenai PKK? Sebab bagi kami PKK bukan sekedar wadah arisan dan simpan pinjam bagi ibu-ibu, tetapi juga sebagai mitra kerja dari pengurus RT.

Tulisan ini didedikasikan juga untuk bapak-bapak pengurus RT 17 dan ibu-ibu pengurus PKK RT 17.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...