Langsung ke konten utama

Mencoba Memahami Kehidupan

Mencoba memahami masalah kehidupan manusia, tanpa mengubah sedikitpun konsep dan kepercayaan yang diyakini itu sendiri, menyederhanakan isi kandungannya sesuai dengan tingkat pemahaman diri sebagai awam, saya mendapati bahwa ada dua ruang di sekitar kita yaitu ruang di mana kita hidup sekarang, yang dapat kita ketahui melalui panca indera kita dan ruang di dalam pikiran yang merujuk pada pengetahuan yang lebih tinggi dan abstrak. Permasalahan 'ruang di dalam pikiran' adakalanya mengalami distorsi dengan permasalahan 'ruang di luar pikiran', tetapi keduanya saling melengkapi dan menjelaskan perwujudan masing-masing. Pikiran adalah entitas yang paling misteri. Kaitan pikiran dan tubuh adalah misteri yang sering dibahas.

Orang-orang pilihan Tuhan biasanya merupakan orang yang disegani dari segi akhlak dan sikap yang terpuji. Mereka tidak suka orang di sekelilingnya terlalu menyanjung dirinya. Pengikutnya mengikuti ajaran-ajaran mereka dengan rela (bukan dengan tendensi) dan konsisten.

Manusia hidup mencari pilihan dan membuat pilihan, dengan maksud masuk dalam kesadaran yang lebih tinggi, tetapi adakalanya dengan maksud mematikan dan mengeluarkan atau keluar dari apa yang dialami. Semuanya membutuhkan proses dalam penukaran antaranya.

Agama dan keyakinan adalah sumber segala sesuatu. Setiap pikiran manusia berhubungan dengan 'pikiran' atau ajaran dalam agama dan keyakinannya. Keduanya berhubungan dengan satu lagi entitas yaitu sang Arsitek.

Sang Arsitek adalah entitas yang membina alam semesta, segala yang ada. DIA lah yang merancang dan mengatur segala di alam semesta. Sang Arsitek tidak takluk pada masa atau waktu karena masa juga adalah rancanganNya. Sang Arsitek ini adalah yang disebut Maha Pencipta, Tuhan, Allah, Hyang Widhi dan sebagainya.

Tuhanlah yang sebenarnya mempunyai kata kunci untuk semua sumber ajaran agama dan keyakinan dan tidak ada seorang pun yang dapat mengakses 'mainframe' (kerangka utama) sumber ajaran ini tanpa seijinNya. Dalam dunia yang tertangkap panca indera manusia, segala sesuatu mempunyai ukuran-ukuran tertentu untuk bisa berjalan. Manusia dan benda bisa bergerak karena ada gaya gravitasi dengan ukuran tertentu. Begitu juga dengan tetesan hujan yang turun, burung-burung yang terbang, pohon-pohon yang bergoyang dan berapa desibel guruh di langit. Setiap satu mempunyai ukuran tertentu, ini menunjukkan bahwa semua itu dicipta bukan terjadi dengan sendirinya.

Tanpa rancangan-rancangan, peristiwa, subyek/obyek dan sebagainya, alam semesta adalah suatu ruang kosong. Tidak ada apa-apa. Nothing. Rancangan-rancangan, peristiwa, subyek/obyek dan sebagainya terdiri dari beratus ratus dan beribu ribu. Semua ini disusun menjadi parameter-parameter, peraturan, masa dan struktur lain.

Pengakuan adanya kekuatan Yang Maha Tinggi, yaitu Tuhan Allah, God, Yahwe, Elohim yang disertai ketundukan, itu fitrah yang dimiliki setiap manusia.

Perasaan tunduk kepada Yang Maha Tinggi, yang disebut iman atau itikad, yang kemudian berdampak pada adanya rasa suka, takut, hormat dan lain-lain, itulah unsur dasar agama. Agama adalah aturan-aturan atau tata cara hidup manusia yang dipercayainya bersumber dari Yang Maha Kuasa untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Berbagai agama telah lahir di dunia ini dan membentuk suatu aturan yang mengatur kehidupan manusia, yang termaktub di dalam kitab-kitab suci, baik agama samawi, maupun yang terdapat dalam agama budaya yang bersumber dari pemikiran manusia. Semua agama, memiliki fungsi dalam kehidupan manusia yaitu, menunjukkan manusia kepada kebenaran sejati, menunjukkan manusia kepada kebahagian hakiki, dan mengatur kehidupan manusia dalam kehidupan bersama.

Dari hakikat dan fungsi agama itu, maka pemeluk agama-agama yang ada di dunia ini mempunyai metode dan tehnik pelaksanaanya masing-masing, yang sudah barang tentu dan sangat boleh jadi terdapat  berbagai perbedaan antara satu dengan lainnya. Kiranya umat manusia tidak terjebak dalam perpecahan tatkala menjalankan agama masing-masing, apalagi perpecahan itu bermotivasikan keagamaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...