Langsung ke konten utama

Ketekunan

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.  (Ibr 12:1-2)

Yesus berhadapan dengan para oposisi di sepanjang jalan -dari Pilatus, orang-orang yang tidak percaya, pemimpin agama bahkan muridNya sendiri. Sebelumnya dikisahkan bahwa Petrus memotong telinga salah satu pria yang datang untuk menangkap Yesus. Dalam Yohanes 18:11 ditulis, kata Yesus kepada Petrus: "Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepadaKu?" Bahkan Maria, ibu Yesus ketika ia melihat-Nya jatuh, ia berlari menghampiri-Nya untuk menghibur-Nya. Hatinya hancur oleh rasa sakit yang dialami Yesus, meski Maria tahu tujuan Yesus.  Dia ada di sini untuk memenuhi ramalan para nabi. Sebab itu, Maria tahu bahwa ia harus membiarkan Dia pergi.

Ketekunan terjadi ketika persiapan telah dilakukan. Definisi ketekunan dalam hal ini adalah ketekunan yang stabil dalam tindakan terutama terlepas dari kesulitan, hambatan atau putus asa. Sangat mudah untuk tetap nyaman, untuk tetap rutin melakukan apa yang kita lakukan. Dalam Kisah Para Rasul 20:24 ditulis "Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah." Dengan menjaga nas ini dalam pikiran ketika kita menghadapi kesulitan, itu adalah tantangan-tantangan yang menumbuhkan kita dan mengajar kita untuk bertahan, menyebabkan kita mengandalkan Tuhan, membawa kita ke dalam iman yang lebih dalam di dalam Dia.

APA YANG DAPAT KITA PELAJARI DARI YESUS?

Akan ada hambatan dan oposisi. Kita akan jatuh tetapi kita harus bangkit sendiri. Segala hal dan orang-orang bisa berada di jalan kita, mengalihkan perhatian atau menghalangi kita dalam perjuangan kita, tetapi kita harus menekankan, menjaga mata kita pada Yesus. Kita adalah bagian dari rencana yang lebih besar, sebuah misi yang menempatkan kemuliaaan Allah di tengah-tengah kehidupan kita yang ditampilkan kepada orang-orang di sekitar kita, karena kekuatan-Nya kita dapat melanjutkan perjuangan baik.

Ketekunan tidak harus self-driven tetapi harus menjadi Allah-driven. Suara siapa yang kita dengarkan? Bagaimana kita menguraikan suara yang mana untuk didengar diantara sekian banyak suara? Kita harus ingat bahwa kita tidak bisa bersandar pada pemahaman kita sendiri. Disinilah kita kehilangan hati dan menemukan diri kita hancur dan tak dapat melanjutkan. Mengapa? Karena kita adalah manusia, membutuhkan Juru Selamat yang mengarahkan segala sesuatu yang kita lakukan untuk mengarah kepada-Nya, kekuatan-Nya, cinta-Nya, kemampuan-Nya.

Mendapatkan ketidaknyamanan. Ketika kita keluar dari perahu, kita melangkah di dalam iman. Akan ada saat kita berpikir kita tahu ke mana Dia membawa kita, tetapi di lain waktu terlihat sepertinya kita tenggelam. Dalam satu atau lain cara kita dapat mengatasi ketakutan kita dan menetapkan tantangan sebelumnya ketika kita bersandar pada Kristus.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...