Langsung ke konten utama

Dari Malam (Yang Menurutku) Luar Biasa

Menjelang pukul 15.00 WIB, saya mendengar pengumuman dari speaker masjid komplek bahwa ada seorang ibu yang meninggal dunia. Saat itu suami baru datang dan bermaksud untu 'leyeh-leyeh' sejenak. Begitu mendengar pengumuman itu, suami langsung beranjak dan bersiap ke rumah duka yang meskipun berbeda RT kebetulan berada dua blok di belakang kami. Selang berapa saat, suami berkirim message agar sebaiknya kami para ibu jangan dulu melayat atau ta'siyah karena kondisi jenasah yang sudah bau dikarenakan baru diketemukan setelah beberapa hari meninggal. Di khawatirkan bahwa ibu-ibu tidak dapat menahan bau dan mual atau muntah karenanya. Sebagai ibu RT yang kekinian (hehehe) aku meng-share kondisi tersebut di grup ibu-ibu, supaya yang memang tidak tahan dengan keadaan tersebut bisa menunda sampai jenasah diberangkatkan tetapi itu semua tetap terserah masing-masing.

Tak ada kabar dari suami sampai akhirnya menjelang maghrib suami datang. Dia bercerita bahwa jenasah belum diapa-apakan karena menunggu ambulance dari Puskesmas. Pihak keluarga menyerahkan perawatan jenasah kepada tenaga medis mengingat jenasah juga baru ditemukan setelah beberapa hari meninggal dalam keadaan yang sudah bau. Tak ada yang berani memandikan dan merawat jenasah. Mendengar itu, akhirnya saya memutuskan untuk sehabis maghrib melayat.

Bersama empat ibu yang lain saya melayat. Setiba di sana, ternyata ambulance Puskesmas sudah datang. Akhirnya saya bersama ke empat ibu tadi menunggu sampai jenasah dievakuasi. Kami tidak bertemu dengan keluarga, sebab ternyata si ibu yang meninggal tinggal seorang diri di situ. Mempunyai anak tunggal, tetapi tinggal di Jawa Tengah bersama keluarganya. Saat itu si anak sedang dalam perjalanan naik bis ke rumah duka. Yang berada di tempat, adik si ibu dan keluarganya.

Ada grenengan-grenengan tak sedap yang saya dengar sepanjang menunggu proses evakuasi. Banyak orang yang menyayangkan, jengkel dan marah atas sikap sang adik. Tentu saja dalam hal ini saya hanya menjadi pendengar yang baik.

Usai evakuasi dan sesampai di rumah, saya menyampaikan bahwa pemakaman dilakukan besok sebab menunggu kedatangan anak tunggalnya yang sedang dalam perjalanan. Sesaat kemudian, suami bergegas ke makam yang letaknya dekat komplek kami untuk mengemasi peralatan-peralatan yang digunakan untuk menguras air dari dalam makam. Setelah beberapa saat, suami menelepon bahwa jenasah akan dimakamkan pada malam itu juga karena kondisi tidak memungkinkan untuk menunda lagi. Suami memberitahu bahwa dia akan menunggu sampai proses pemakaman selesai.

Menunggu kedatangan jenasah yang di evakuasi ke RS untuk dimandikan sangat lama. Seluruh proses, dari kedatangan jenasah, kemudian di sholatkan di masjid komplek sampai dimakamkan menjadikan suami pulang sekitar jam 1.30 dini hari. Saya pun akhirnya ikut melekan sepanjang waktu itu, sebab suami tidak membawa kunci rumah.

Keesokan harinya, saat siang hari, kami berbincang-bincang mengenai kejadian malam itu. Termasuk di dalamnya tentang apa yang orang-orang lakukan untuk membantu. Dari sisi suami saya mendengar bahwa ada orang-orang yang bisa jadi tidak dikenal oleh si ibu maupun keluarga yang meninggal yang rela membantu menggali makam, menguras air yang 'nyumber' dari dalam galian dan rela berkubang lumpur karenanya. Yang dari sore hingga malam tidak menuntut untuk diberi makan, bahkan tidak sempat mandi karena menunggu kedatangan jenasah yang tak pasti waktunya. Juga para bapak yg dengan setia menunggu di masjid komplek untuk mengiringi kepergian jenasah dengan doa. Sementara saya sendiri mendengar bagaimana seorang ibu harus berjibaku dengan bau yang menyengat untuk masuk ke dalam dan menyiram kopi dan cara-cara lain untuk mengurangi bau sebelum petugas RS datang. Saya juga melihat bahwa masih ada bapak-bapak yang bukan sanak kadhang rela membantu petugas RS mengevakuasi sementara sang adik tidak bersedia untuk melakukannya. Serta para ibu yang rela hingga malam menyiapkan ubarampe untuk persiapan pemakaman.

Dari sinilah saya merasa Tuhan tengah mencolek saya kembali, bahwa kerap kali ada cerita dalam sebuah peristiwa kematian.

Dulu, ketika saya bekerja di sebuah developer di Surabaya, saya mempunyai teman, seorang ibu single parent dengan anak tunggal. Dia selalu mengatakan pada saya bahwa dia berikan apapun demi masa depan yang baik untuk anaknya dan berharap kelak di usia tuanya dia bisa bersandar pada anaknya dan anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik dari dirinya. Tapi apa daya, takdir menentukan bahwa anaknyalah yang harus mendahuluinya menghadap Sang Pencipta. Bersyukur bahwa teman saya ini mempunyai kerabat jauh yang mau ikut bersusah-susah dengannya sejak dari anaknya sakit hingga meninggal.

Adapula seorang yang tinggal di luar negeri, kerabat dari teman saya, secara materi hidupnya lebih dari cukup mengingat sampai usia tuanya dia tidak menikah. Ada jaminan masa tua yang baik di negeri itu untuk para orang tua. Dan bisa dibilang dia tinggal menikmati masa tuanya. Dia tinggal di sebuah apartemen yang terintregasi dengan berbagai fasilitas umum. Mulai dari pusat perbelanjaan, pusat kesehatan dan pemberhentian transportasi umum. Tetapi kemudahan dan kenyaman itu tidak menjamin kematiannya 'mudah'. Dia ditemukan meninggal dengan ditemani seekor anjingnya. Itupun beberapa hari setelahnya karena kebetulan kerabatnya yang juga tinggal di negeri itu berkunjung.

Dan banyak lagi cerita-cerita dibalik peristiwa kematian yang pernah saya dengar. Kita seringkali merancang banyak hal dalam kehidupan namun pada akhirnya kita tidak tahu akhir bidup kita.

Kadang kita mengandalkan seseorang atau kecukupan materi. Tetapi tidak selalu yang kita andalkan benar-benar dapat kita andalkan.

Dan yang semasa hidup kita, kita abaikan atau luput dari perhatian kita, justru itulah yang mungkin pada akhirnya menyempurnakan akhir perjalanan hidup kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...