Langsung ke konten utama

Bagai Sudara Ketika Membutuhkan

Beberapa hari lalu suami mendapat sms beruntun dari saudara-saudaranya yang berasal dari tempat kelahiran ayahnya, Wonogiri dan juga dari Solo. Isi dari sms tersebut berkeluh kesah dan diakhiri dengan pinjam uang. Yang satu sejumlah Rp. 3.000.000,- yang satu Rp. 500.000,-.

Ada sesak di hati kami, bahkan meskipun kami bisa memberi pinjaman itu. Mengapa? Bagaimana tidak, mereka mengingat kami hanya ketika mereka membutuhkan kami. "Sinyal" komunikasi mereka yang "terganggu" jika situasi tenang bisa dengan cepat terhubung ketika membutuhkan bantuan. Hal tersebut sering kami alami, bukan hanya pada saudara-saudara jauh suami, tetapi juga pada saudara kandung suami, hanya tersambung ketika mereka membutuhkan bantuan suami.

Suatu hari, ketika kami bertemu Maria, kakak kandung suami, saya bercerita bahwa suami -adik kandungnya, baru sembuh dari sakit. Panas karena radang tenggorokan. Jawabnya "Ooo... pantesan hatiku kok ga enak..., ternyata Kris sakit to?". Saya hanya tersenyum dan membatin, jika hatimu merasa ga nyaman dan gelisah, mengapa tidak bersegera untuk menghubungi adikmu dan menanyakan kabarnya??? Pernah suami berkata bahwa mereka ga mungkin menghubungi dan nyambangi dia (suamiku) kalau mereka ga ada butuhnya dan kalau dia (suamiku) sudah jadi mayat. Duh!!! Teganya teganya teganya!!!

Sebenarnya kami tidak keberatan jika saudara membutuhkan bantuan dan pertolongan datang pada kami. Yang sering kami sayangkan adalah bahwa mereka hanya terhubung ketika mereka membutuhkan bantuan, baik berupa uang maupun tenaga. Apa ya sedangkal itu arti sebuah persaudaraan? Apa ya serendah itu arti sebuah silahturahmi?

Kami paham bahwa tiap individu dalam keluarga mempunyai kesibukannya masing-masing. Sayangnya mereka kadang lupa bahwa kami pun sama seperti mereka, juga punya kesibukan dan rencana kegiatan kami sendiri. Mereka lebih cenderung menempatkan kami di posisi sesuai keinginan mereka yaitu bersegera menolong mereka. Jika tidak, maka mereka memberi kami mark atau cap, kami adalah golongan yang tidak mau peduli kesulitan saudaranya, tanpa peduli pada situasi kami.

Namun kami tetap berusaha terhubung, dengan selalu mengundang mereka tiap kami ada acara, berusaha singgah jika kami kebetulan lewat di sekitar tempat tinggal mereka dan berusaha hadir disaat duka dan gembira mereka, meski mereka hampir tak pernah datang berkunjung ke rumah kami, tak pernah pula menanyakan kabar kami. Mengapa? Karena kalian adalah saudara kami.

☺☺☺☺☺☺

Silahturahmi sebenarnya hal yang tidak sulit jika dilakukan dengan hati. Kemajuan tekhnologi mempermudah segalanya. Anda bisa menggunakan sarana prasarana jaman sekarang yang terbilang canggih di banding berapa tahun yang lalu. Dulu, Anda hanya bisa menggunakan surat atau telegram untuk terhubung dengan saudara Anda yang jauh karena biaya telepon bisa jadi sangat mahal dan jaman dulu tidak semua orang memiliki telepon. Sekarang, hampir semua orang pegang handphone, baik dengan fitur standard maupun macam-macam fitur. Anda bisa menggunakan handphone jika Anda tidak mempunyai cukup waktu untuk berkunjung. Call atau sms atau bbm atau wa saudara Anda meski sekedar say hello, menanyakan kabar atau bercerita hal-hal remeh temeh yang ga penting. Bisa jadi dari situ obrolan Anda berkembang. Jika Anda bisa melakukan hal-hal itu pada teman Anda, mengapa Anda tidak bisa melakukannya pada saudara Anda?

Itu jika Anda tidak mempunyai waktu cukup. Setidaknya Anda tetap terhubung dengan saudara Anda, bukan hanya ketika butuh saja. Jika Anda punya waktu, lebih baik jika Anda sesekali bertandang ke rumahnya. Bukan hanya berharap saudara Anda saja yang berkunjung ke rumah Anda. Bukan apa-apa. Sebab demikianlah seharusnya orang bersilahturahmi. Jika Anda bisa 'main' atau datang pada undangan teman Anda mengapa Anda tidak bisa main dan hadir saat diundang atau saat sedih dan gembira saudara Anda?

Dan pada akhirnya, semua kembali pada diri sendiri, bagaimana Anda memperlakukan saudara Anda. Apakah benar-benar sebagai saudara atau saudara hanya ketika dibutuhkan 🤔

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...