Walaupun kini jarak fisik sudah bisa diatasi dengan teknologi (telepon, SMS, BBM, skype, dan sebagainya), tetap saja ada sesuatu yang 'hilang' dalam sebuah relasi keluarga bila para anggotanya kerap saling berjauhan secara fisik, apalagi dalam waktu lama. Inginnya sih, sering-sering pulang kampung menengok orang tua untuk melepas rindu, tapi apa daya waktu tak memungkinkan atau biaya tak cukup.
Di sinilah persahabatan menjadi penting. Di saat seseorang merasa 'sendirian' di suatu tempat, jauh dari sanak keluarga, dia akan mencari pengganti kehangatan keluarga dari lingkungan sekitarnya. Bisa dari teman sekantor, tetangga, sesama ibu-ibu yang biasa mengantar jemput anak sekolah, atau dari lingkungan komunitas lain di mana seseorang itu terlibat.
Begitu pentingnya arti persahabatan bagi masyarakat (urban) masa kini, sehingga belakangan ini muncul istilah baru, yaitu 'framily' -dari kata friend (sahabat) dan family (keluarga). Istilah ini dalam urban dictionary merujuk pada hubungan persahabatan yang begitu akrab, sehingga sudah dianggap sebagai keluarga sendiri. Bahkan terkadang jauh lebih kental dan langgeng ketimbang hubungan dengan saudara sekandung.
Kasih persaudaraan Kristiani
Dalam Perjanjian Lama 'saudara', seperti juga 'tetangga/sesama/sebangsa', berarti 'sesama bangsa Israel' (Imamat 19:17 dst). Dalam Kristianitas, Tuhan Yesus meluaskan arti kasih kepada sesama manusia ("Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna."(Mat 5: 43-48)),(lihat juga Luk 10:27-37), tetapi Ia juga menetapkan kasih khusus karena Ia menyebut pengikutNya adalah saudaraNya ( Jawab Yesus kepada mereka: "Siapa ibuKu dan siapa saudara-saudaraKu?" Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekelilingNya itu dan berkata: "Ini ibuKu dan saudara-saudaraKu! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudaraKu laki-laki, dialah saudaraKu perempuan, dialah ibuKu." (Mrk 3:33-35)) dan mereka semua adalah saudara ( Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. (Mat 23:8))
Hal ini terungkap dalam cara hidup jemaat yang pertama (Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. (Kis 2:41-47))
Alkitab mengatakan bahwa Kristus Yesus telah menyerahkan diriNya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah, oleh karena itu kita harus menjadi penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hidup di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kita.
Bagaimanakah kita berlaku sebagai penurut-penurut Allah? Jangan ada percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan, namun kita harus berlaku sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono — karena hal-hal ini tidak pantas — tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur. Karena tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah. Jangan kita disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka, oleh sebab itu janganlah berkawan dengan mereka. Hidup sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan menguji apa yang berkenan kepada Tuhan. Jangan turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya menelanjangi perbuatan-perbuatan itu. Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang. Itulah sebabnya dikatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu." Karena itu, kita harus memperhatikan dengan saksama, bagaimana kita hidup, jangan seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan mempergunakan waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu kita harus mengusahakan supaya kita mengerti kehendak Tuhan. Jangan mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kita penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersorak bagi Tuhan dengan segenap hati. Mengucap syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita dan merendahkan diri seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus (Ef 5:1-21).
Kita telah belajar kasih mengasihi dari Allah. Tetapi kita dituntut untuk lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya. Anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja, sehingga kita hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka (1Tes 4:9-12), tapi yang harus digalakkan dan diperdalam adalah hendaklah kita saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat (Rom 12:10). Agar menjadi tetap haruslah kita memelihara kasih persaudaraan (Ibr 13:1), dan bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hati (1Ptr 1:22).
Persaudaraan Kristiani nampak pada cara berpikir yang sama, sehati sepikir dalam hidup bersama; tdk memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi mengarahkan diri kepada perkara-perkara yang sederhana dan tdk menganggap diri pandai (Rom 12:16)) dan nampak pada cara hidup di mana tingkat pengertian yang telah di capai di lanjutkan menurut jalan yang telah di tempuh (Flp 3:16), teristimewa dengan kesukaan memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat (Ibr 13:1-2) dan dengan membantu saudara seiman (Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan! (Rom 12:9-13)). Ini membuktikan ketulenan iman dari orang Kristen itu sendiri yaitu karena kita mengasihi saudara kita (1Yoh 3:14)) dan bagi dunia bahwa kita adalah murid-murid Kristus, yaitu jikalau kita saling mengasihi (Yoh 13:35).
Tentu saja 1Yoh 3:14-16 dengan sendirinya tak dapat terlaksana di luar 'persekutuan iman', tapi kita harus menghormati semua orang, mengasihi saudara-saudara kita, takut akan Allah, menghormati raja (1Ptr 2:17)) dan berbuat baik kepada semua orang selama masih ada kesempatan bagi kita, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita
seiman (Gal 6:10).
Di sinilah persahabatan menjadi penting. Di saat seseorang merasa 'sendirian' di suatu tempat, jauh dari sanak keluarga, dia akan mencari pengganti kehangatan keluarga dari lingkungan sekitarnya. Bisa dari teman sekantor, tetangga, sesama ibu-ibu yang biasa mengantar jemput anak sekolah, atau dari lingkungan komunitas lain di mana seseorang itu terlibat.
Begitu pentingnya arti persahabatan bagi masyarakat (urban) masa kini, sehingga belakangan ini muncul istilah baru, yaitu 'framily' -dari kata friend (sahabat) dan family (keluarga). Istilah ini dalam urban dictionary merujuk pada hubungan persahabatan yang begitu akrab, sehingga sudah dianggap sebagai keluarga sendiri. Bahkan terkadang jauh lebih kental dan langgeng ketimbang hubungan dengan saudara sekandung.
Kasih persaudaraan Kristiani
Dalam Perjanjian Lama 'saudara', seperti juga 'tetangga/sesama/sebangsa', berarti 'sesama bangsa Israel' (Imamat 19:17 dst). Dalam Kristianitas, Tuhan Yesus meluaskan arti kasih kepada sesama manusia ("Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna."(Mat 5: 43-48)),(lihat juga Luk 10:27-37), tetapi Ia juga menetapkan kasih khusus karena Ia menyebut pengikutNya adalah saudaraNya ( Jawab Yesus kepada mereka: "Siapa ibuKu dan siapa saudara-saudaraKu?" Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekelilingNya itu dan berkata: "Ini ibuKu dan saudara-saudaraKu! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudaraKu laki-laki, dialah saudaraKu perempuan, dialah ibuKu." (Mrk 3:33-35)) dan mereka semua adalah saudara ( Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. (Mat 23:8))
Hal ini terungkap dalam cara hidup jemaat yang pertama (Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. (Kis 2:41-47))
Alkitab mengatakan bahwa Kristus Yesus telah menyerahkan diriNya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah, oleh karena itu kita harus menjadi penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hidup di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kita.
Bagaimanakah kita berlaku sebagai penurut-penurut Allah? Jangan ada percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan, namun kita harus berlaku sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono — karena hal-hal ini tidak pantas — tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur. Karena tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah. Jangan kita disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka, oleh sebab itu janganlah berkawan dengan mereka. Hidup sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan menguji apa yang berkenan kepada Tuhan. Jangan turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya menelanjangi perbuatan-perbuatan itu. Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang. Itulah sebabnya dikatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu." Karena itu, kita harus memperhatikan dengan saksama, bagaimana kita hidup, jangan seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan mempergunakan waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu kita harus mengusahakan supaya kita mengerti kehendak Tuhan. Jangan mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kita penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersorak bagi Tuhan dengan segenap hati. Mengucap syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita dan merendahkan diri seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus (Ef 5:1-21).
Kita telah belajar kasih mengasihi dari Allah. Tetapi kita dituntut untuk lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya. Anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja, sehingga kita hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka (1Tes 4:9-12), tapi yang harus digalakkan dan diperdalam adalah hendaklah kita saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat (Rom 12:10). Agar menjadi tetap haruslah kita memelihara kasih persaudaraan (Ibr 13:1), dan bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hati (1Ptr 1:22).
Persaudaraan Kristiani nampak pada cara berpikir yang sama, sehati sepikir dalam hidup bersama; tdk memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi mengarahkan diri kepada perkara-perkara yang sederhana dan tdk menganggap diri pandai (Rom 12:16)) dan nampak pada cara hidup di mana tingkat pengertian yang telah di capai di lanjutkan menurut jalan yang telah di tempuh (Flp 3:16), teristimewa dengan kesukaan memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat (Ibr 13:1-2) dan dengan membantu saudara seiman (Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan! (Rom 12:9-13)). Ini membuktikan ketulenan iman dari orang Kristen itu sendiri yaitu karena kita mengasihi saudara kita (1Yoh 3:14)) dan bagi dunia bahwa kita adalah murid-murid Kristus, yaitu jikalau kita saling mengasihi (Yoh 13:35).
Tentu saja 1Yoh 3:14-16 dengan sendirinya tak dapat terlaksana di luar 'persekutuan iman', tapi kita harus menghormati semua orang, mengasihi saudara-saudara kita, takut akan Allah, menghormati raja (1Ptr 2:17)) dan berbuat baik kepada semua orang selama masih ada kesempatan bagi kita, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita
seiman (Gal 6:10).
Komentar