Langsung ke konten utama

Pasti!!! Karakter Seseorang Akan Diuji

Karakter adalah sikap atau perilaku seseorang yang tetap konsisten pada jalur yang benar, meskipun dihadapkan pada situasi yang dilematis. Artinya, karakter seseorang akan diuji, ketika dihadapkan pada suatu permasalahan. Seseorang dapat dikatakan berkarakter baik, apabila dihadapkan pada permasalahan yang berat, tetapi dirinya tetap menempuh jalan yang sesuai norma.

Ketika remaja, seseorang akan dihadapkan pada ujian terkait pada pelibatan dirinya dengan teman sebaya yang menyangkut eksistensinya. Contoh, pilih pulang atau ikut tawuran dengan teman-teman, memilih jomblo atau ikut teman-teman berpacaran, tetap setia pada ajaran agama atau coba-coba nonton video porno.

Ketika dewasa, karakter juga akan diuji. Misalnya pada pilihan, suami kaya atau jujur? Istri seksi atau salehah?

Karakter seorang pemimpin pun akan diuji. Situasi-situasi sulit yang akan menjadi ujiannya. Dalam menghadapi persoalan yang sulit akan bisa terlihat karakter mana yang lebih unggul dari yang lain. Apakah seorang pemimpin bisa menghadapinya, ikut-ikutan saja atau malah hanya jadi penonton?

Tuhan memberikan manusia perlengkapan sebagai bekal, yakni iman, akal dan perasaan. Bisa jadi seseorang berlindung pada alasan manusiawi ketika melakukan korupsi. Orang lain melakukan itu, mengapa kita tidak? Atau... yang penting gak ketahuan! Tapi bagaimana menurut iman kita? Apakah kita bisa berkelit dari hukum Tuhan? Bisakah kita menegadahkan wajah ketika diminta pertanggung jawaban?

Karakter tidak datang serta merta. Pembangunan karakter itu tidak bisa dilakukan dengan cara ditulis atau dihapalkan. Tapi karakter tersebut melekat pada pandangan-pandangan sikap dasar yang diajarkan. Karakter dibentuk oleh dua bagian yang mengawali yaitu pola asuh orang tua dan budaya di sekolah dan masyarakat. Semua saling mengisi. Pola asuh yang tepat memberi dasar yang kuat. Di sekolah, seorang guru juga harus memberikan contoh yang baik. Apa yang dikatakan seseorang maka itulah yang harus dilakukannya juga. Budaya sekolah dan budaya masyarakat yang beradab membekali rasa malu pada anggota masyarakat untik tidak melakukan perilaku yang menyimpang.

Bagaimana kita cepat tahu karakter seseorang?  Jika kita sama-sama perantau, kita akan tahu karaktet yang sesungguhnya. Pada umumnya, seseorang yang tinggal di daerah asalnya, tidak menampakkan kejelekan karakternya karena ia terbiasa dengan apa yang sesuai dengan tabiatnya yang biasa ia hadapi. Jika ia sering melakukan perjalanan jauh atau merantau, maka tidak biasa lagi dengan keadaan dan kebiasaannya. Barangsiapa yang ketika dirantau mengalami kesusahan tetap memiliki  akhlak yang baik, ketika tidak di perantauan maka ia akan berakhlak lebih baik lagi. Jika seseorang dipuji dalam perlakuan dan tindakan ketika di tempat asal dan dipuji perlakuan dan tindakannya oleh teman di perantauan, maka kita tidak perlu meragukan kebaikannya.

Kita juga bisa melihat karakter seseorang dalam pertengkaran, apakah sesorang itu merasa diri lebih hebat, selalu ingin menang dan merasa menang atau puas ketika orang lain tidak melawan. Saat bertengkat, karakter terdalam seseorang akan muncul... tanpa sadar akan membuka "topeng" yang selama ini dikenakan.

Semua kita pasti setuju ada banyak hikmah dalam peristiwa sakit. Ingatlah apa reaksi kita terhadap orang-orang di sekitar kita ketika kita sakit, khususnya sakit parah atau kronis. Itulah kita sejatinya. Tentang hal ini, saya jadi teringat pada almarhum bapak saya, yang bahkan menjelang ajalnya, ketika diberi 'kesempatan' untuk tersadar dari keadaan 'tak sadar', hal pertama yang dilakukan beliau adalah... tersenyum pada orang-orang di sekitarnya dan bahkan sempat bercanda dengan kami yang menjaga sebelum kemudian tak sadar kembali hingga tutup usia.

Yang terakhir, kita dapat melihat karakter seseorang, ketika kepadanya dituduhkan suatu kejahatan padahal dia tidak melakukan kesalahan. Ketika dia digoda untuk turut melakukan keinginan orang lain yang tidak benar, ketika seorang pria 'digoda' wanita dan sebaliknya. Dalam peristiwa-peristiwa tersebut, karakter seseorang akan diuji. Seseorang yang berkarakter baik memilih apa yang benar, meskipun banyak mengalami ujian dan penderitaan.

Pada akhirnya, pola asuh dan budayalah yang menyebabkan kita menjadi manusia yang beradab. Untuk itu, mari kita lebih berintropeksi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...