Karakter adalah sikap atau perilaku seseorang yang tetap konsisten pada jalur yang benar, meskipun dihadapkan pada situasi yang dilematis. Artinya, karakter seseorang akan diuji, ketika dihadapkan pada suatu permasalahan. Seseorang dapat dikatakan berkarakter baik, apabila dihadapkan pada permasalahan yang berat, tetapi dirinya tetap menempuh jalan yang sesuai norma.
Ketika remaja, seseorang akan dihadapkan pada ujian terkait pada pelibatan dirinya dengan teman sebaya yang menyangkut eksistensinya. Contoh, pilih pulang atau ikut tawuran dengan teman-teman, memilih jomblo atau ikut teman-teman berpacaran, tetap setia pada ajaran agama atau coba-coba nonton video porno.
Ketika dewasa, karakter juga akan diuji. Misalnya pada pilihan, suami kaya atau jujur? Istri seksi atau salehah?
Karakter seorang pemimpin pun akan diuji. Situasi-situasi sulit yang akan menjadi ujiannya. Dalam menghadapi persoalan yang sulit akan bisa terlihat karakter mana yang lebih unggul dari yang lain. Apakah seorang pemimpin bisa menghadapinya, ikut-ikutan saja atau malah hanya jadi penonton?
Tuhan memberikan manusia perlengkapan sebagai bekal, yakni iman, akal dan perasaan. Bisa jadi seseorang berlindung pada alasan manusiawi ketika melakukan korupsi. Orang lain melakukan itu, mengapa kita tidak? Atau... yang penting gak ketahuan! Tapi bagaimana menurut iman kita? Apakah kita bisa berkelit dari hukum Tuhan? Bisakah kita menegadahkan wajah ketika diminta pertanggung jawaban?
Karakter tidak datang serta merta. Pembangunan karakter itu tidak bisa dilakukan dengan cara ditulis atau dihapalkan. Tapi karakter tersebut melekat pada pandangan-pandangan sikap dasar yang diajarkan. Karakter dibentuk oleh dua bagian yang mengawali yaitu pola asuh orang tua dan budaya di sekolah dan masyarakat. Semua saling mengisi. Pola asuh yang tepat memberi dasar yang kuat. Di sekolah, seorang guru juga harus memberikan contoh yang baik. Apa yang dikatakan seseorang maka itulah yang harus dilakukannya juga. Budaya sekolah dan budaya masyarakat yang beradab membekali rasa malu pada anggota masyarakat untik tidak melakukan perilaku yang menyimpang.
Bagaimana kita cepat tahu karakter seseorang? Jika kita sama-sama perantau, kita akan tahu karaktet yang sesungguhnya. Pada umumnya, seseorang yang tinggal di daerah asalnya, tidak menampakkan kejelekan karakternya karena ia terbiasa dengan apa yang sesuai dengan tabiatnya yang biasa ia hadapi. Jika ia sering melakukan perjalanan jauh atau merantau, maka tidak biasa lagi dengan keadaan dan kebiasaannya. Barangsiapa yang ketika dirantau mengalami kesusahan tetap memiliki akhlak yang baik, ketika tidak di perantauan maka ia akan berakhlak lebih baik lagi. Jika seseorang dipuji dalam perlakuan dan tindakan ketika di tempat asal dan dipuji perlakuan dan tindakannya oleh teman di perantauan, maka kita tidak perlu meragukan kebaikannya.
Kita juga bisa melihat karakter seseorang dalam pertengkaran, apakah sesorang itu merasa diri lebih hebat, selalu ingin menang dan merasa menang atau puas ketika orang lain tidak melawan. Saat bertengkat, karakter terdalam seseorang akan muncul... tanpa sadar akan membuka "topeng" yang selama ini dikenakan.
Semua kita pasti setuju ada banyak hikmah dalam peristiwa sakit. Ingatlah apa reaksi kita terhadap orang-orang di sekitar kita ketika kita sakit, khususnya sakit parah atau kronis. Itulah kita sejatinya. Tentang hal ini, saya jadi teringat pada almarhum bapak saya, yang bahkan menjelang ajalnya, ketika diberi 'kesempatan' untuk tersadar dari keadaan 'tak sadar', hal pertama yang dilakukan beliau adalah... tersenyum pada orang-orang di sekitarnya dan bahkan sempat bercanda dengan kami yang menjaga sebelum kemudian tak sadar kembali hingga tutup usia.
Yang terakhir, kita dapat melihat karakter seseorang, ketika kepadanya dituduhkan suatu kejahatan padahal dia tidak melakukan kesalahan. Ketika dia digoda untuk turut melakukan keinginan orang lain yang tidak benar, ketika seorang pria 'digoda' wanita dan sebaliknya. Dalam peristiwa-peristiwa tersebut, karakter seseorang akan diuji. Seseorang yang berkarakter baik memilih apa yang benar, meskipun banyak mengalami ujian dan penderitaan.
Pada akhirnya, pola asuh dan budayalah yang menyebabkan kita menjadi manusia yang beradab. Untuk itu, mari kita lebih berintropeksi.
Ketika remaja, seseorang akan dihadapkan pada ujian terkait pada pelibatan dirinya dengan teman sebaya yang menyangkut eksistensinya. Contoh, pilih pulang atau ikut tawuran dengan teman-teman, memilih jomblo atau ikut teman-teman berpacaran, tetap setia pada ajaran agama atau coba-coba nonton video porno.
Ketika dewasa, karakter juga akan diuji. Misalnya pada pilihan, suami kaya atau jujur? Istri seksi atau salehah?
Karakter seorang pemimpin pun akan diuji. Situasi-situasi sulit yang akan menjadi ujiannya. Dalam menghadapi persoalan yang sulit akan bisa terlihat karakter mana yang lebih unggul dari yang lain. Apakah seorang pemimpin bisa menghadapinya, ikut-ikutan saja atau malah hanya jadi penonton?
Tuhan memberikan manusia perlengkapan sebagai bekal, yakni iman, akal dan perasaan. Bisa jadi seseorang berlindung pada alasan manusiawi ketika melakukan korupsi. Orang lain melakukan itu, mengapa kita tidak? Atau... yang penting gak ketahuan! Tapi bagaimana menurut iman kita? Apakah kita bisa berkelit dari hukum Tuhan? Bisakah kita menegadahkan wajah ketika diminta pertanggung jawaban?
Karakter tidak datang serta merta. Pembangunan karakter itu tidak bisa dilakukan dengan cara ditulis atau dihapalkan. Tapi karakter tersebut melekat pada pandangan-pandangan sikap dasar yang diajarkan. Karakter dibentuk oleh dua bagian yang mengawali yaitu pola asuh orang tua dan budaya di sekolah dan masyarakat. Semua saling mengisi. Pola asuh yang tepat memberi dasar yang kuat. Di sekolah, seorang guru juga harus memberikan contoh yang baik. Apa yang dikatakan seseorang maka itulah yang harus dilakukannya juga. Budaya sekolah dan budaya masyarakat yang beradab membekali rasa malu pada anggota masyarakat untik tidak melakukan perilaku yang menyimpang.
Bagaimana kita cepat tahu karakter seseorang? Jika kita sama-sama perantau, kita akan tahu karaktet yang sesungguhnya. Pada umumnya, seseorang yang tinggal di daerah asalnya, tidak menampakkan kejelekan karakternya karena ia terbiasa dengan apa yang sesuai dengan tabiatnya yang biasa ia hadapi. Jika ia sering melakukan perjalanan jauh atau merantau, maka tidak biasa lagi dengan keadaan dan kebiasaannya. Barangsiapa yang ketika dirantau mengalami kesusahan tetap memiliki akhlak yang baik, ketika tidak di perantauan maka ia akan berakhlak lebih baik lagi. Jika seseorang dipuji dalam perlakuan dan tindakan ketika di tempat asal dan dipuji perlakuan dan tindakannya oleh teman di perantauan, maka kita tidak perlu meragukan kebaikannya.
Kita juga bisa melihat karakter seseorang dalam pertengkaran, apakah sesorang itu merasa diri lebih hebat, selalu ingin menang dan merasa menang atau puas ketika orang lain tidak melawan. Saat bertengkat, karakter terdalam seseorang akan muncul... tanpa sadar akan membuka "topeng" yang selama ini dikenakan.
Semua kita pasti setuju ada banyak hikmah dalam peristiwa sakit. Ingatlah apa reaksi kita terhadap orang-orang di sekitar kita ketika kita sakit, khususnya sakit parah atau kronis. Itulah kita sejatinya. Tentang hal ini, saya jadi teringat pada almarhum bapak saya, yang bahkan menjelang ajalnya, ketika diberi 'kesempatan' untuk tersadar dari keadaan 'tak sadar', hal pertama yang dilakukan beliau adalah... tersenyum pada orang-orang di sekitarnya dan bahkan sempat bercanda dengan kami yang menjaga sebelum kemudian tak sadar kembali hingga tutup usia.
Yang terakhir, kita dapat melihat karakter seseorang, ketika kepadanya dituduhkan suatu kejahatan padahal dia tidak melakukan kesalahan. Ketika dia digoda untuk turut melakukan keinginan orang lain yang tidak benar, ketika seorang pria 'digoda' wanita dan sebaliknya. Dalam peristiwa-peristiwa tersebut, karakter seseorang akan diuji. Seseorang yang berkarakter baik memilih apa yang benar, meskipun banyak mengalami ujian dan penderitaan.
Pada akhirnya, pola asuh dan budayalah yang menyebabkan kita menjadi manusia yang beradab. Untuk itu, mari kita lebih berintropeksi.
Komentar