Niat itu seperti surat. Kalau salah tulis alamat akan sampai salah tempat.
Niat itu harus lurus karena Allah. Allah tidak menerima amal kecuali dengan niat yang lurus. Sehebat apapun amal, jika niatnya salah tidak akan diterima. Segigih apa pun amal, jika niatnya salah tidak akan diterima.
Contoh, jika ingin menikah, luruskan niat. Mudah-mudahan dengan menikah lebih kuat ibadahnya. Bisa bahu membahu mendekatkan diri pada Allah. Sekiranya diijinkan dititipkan anak, semoga dapat menjadi cahaya bagi banyak orang. Semoga hidup lebih berkah.
Jangan sampai posisi tertinggi niat di hati untuk memperbaiki diri bukan karena Allah melainkan hanya karena jodoh. Cek lagi kesempurnaan niat kita, apakah karena Allah atau semata-mata hanya karena ingin mendapatkan jodoh. Perkara jadi atau tidak, Allah yang mengatur jodoh. Tapi lurusnya niat, sudah menjadi amal.
Contoh lagi, beli barang, cukup yang sesuai dengan kebutuhan dan keperluan, bukan keinginan. Keinginan itu sifatnya sebentar.
Mencari nafkah adalah merupakan ibadah kepada Allah. Jika mengalami penurunan semangat, kembalilah meluruskan niat, untuk apa melakukan bisnis atau pergi bekerja. Kalau niat hanya ingin harta, kekayaan tidak akan dibawa mati.
Bila jadi pejabat, sekedar untuk mencari kekuasaan, harta, ingin dipuji, ingin dihargai, itu tidak akan berkah. Di akhirat justru akan berat tuntutannya, bagi yang punya jabatan atau kedudukan tapi kelakuannya tidak sesuai dengan amanahnya. Hanya niat untuk kekuasaan? Kekuasaan pun nantinya akan berakhir. Ingin populer? Belum tentu populer kebaikannya. Bisa jadi yang populer adalah aibnya.
Luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar. Pasrahkan hasilnya kepada Allah.
Niat itu harus lurus karena Allah. Allah tidak menerima amal kecuali dengan niat yang lurus. Sehebat apapun amal, jika niatnya salah tidak akan diterima. Segigih apa pun amal, jika niatnya salah tidak akan diterima.
Contoh, jika ingin menikah, luruskan niat. Mudah-mudahan dengan menikah lebih kuat ibadahnya. Bisa bahu membahu mendekatkan diri pada Allah. Sekiranya diijinkan dititipkan anak, semoga dapat menjadi cahaya bagi banyak orang. Semoga hidup lebih berkah.
Jangan sampai posisi tertinggi niat di hati untuk memperbaiki diri bukan karena Allah melainkan hanya karena jodoh. Cek lagi kesempurnaan niat kita, apakah karena Allah atau semata-mata hanya karena ingin mendapatkan jodoh. Perkara jadi atau tidak, Allah yang mengatur jodoh. Tapi lurusnya niat, sudah menjadi amal.
Contoh lagi, beli barang, cukup yang sesuai dengan kebutuhan dan keperluan, bukan keinginan. Keinginan itu sifatnya sebentar.
Mencari nafkah adalah merupakan ibadah kepada Allah. Jika mengalami penurunan semangat, kembalilah meluruskan niat, untuk apa melakukan bisnis atau pergi bekerja. Kalau niat hanya ingin harta, kekayaan tidak akan dibawa mati.
Bila jadi pejabat, sekedar untuk mencari kekuasaan, harta, ingin dipuji, ingin dihargai, itu tidak akan berkah. Di akhirat justru akan berat tuntutannya, bagi yang punya jabatan atau kedudukan tapi kelakuannya tidak sesuai dengan amanahnya. Hanya niat untuk kekuasaan? Kekuasaan pun nantinya akan berakhir. Ingin populer? Belum tentu populer kebaikannya. Bisa jadi yang populer adalah aibnya.
Luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar. Pasrahkan hasilnya kepada Allah.
Komentar