Langsung ke konten utama

Meluruskan Niat

Niat itu seperti surat. Kalau salah tulis alamat akan sampai salah tempat.


Niat itu harus lurus karena Allah. Allah tidak menerima amal kecuali dengan niat yang lurus. Sehebat apapun amal, jika niatnya salah tidak akan diterima. Segigih apa pun amal, jika niatnya salah tidak akan diterima.

Contoh, jika ingin menikah, luruskan niat. Mudah-mudahan dengan menikah lebih kuat ibadahnya. Bisa bahu membahu mendekatkan diri pada Allah. Sekiranya diijinkan dititipkan anak, semoga dapat menjadi cahaya bagi banyak orang. Semoga hidup lebih berkah.

Jangan sampai posisi tertinggi niat di hati untuk memperbaiki diri bukan karena Allah melainkan hanya karena jodoh. Cek lagi kesempurnaan niat kita, apakah karena Allah atau semata-mata hanya karena ingin mendapatkan jodoh. Perkara jadi atau tidak, Allah yang mengatur jodoh. Tapi lurusnya niat, sudah menjadi amal.

Contoh lagi, beli barang, cukup yang sesuai dengan kebutuhan dan keperluan, bukan keinginan. Keinginan itu sifatnya sebentar.

Mencari nafkah adalah merupakan ibadah kepada Allah. Jika mengalami penurunan semangat, kembalilah meluruskan niat, untuk apa melakukan bisnis atau pergi bekerja. Kalau niat hanya ingin harta, kekayaan tidak akan dibawa mati.

Bila jadi pejabat, sekedar untuk mencari kekuasaan, harta, ingin dipuji, ingin dihargai, itu tidak akan berkah. Di akhirat justru akan berat tuntutannya, bagi yang punya jabatan atau kedudukan tapi kelakuannya tidak sesuai dengan amanahnya. Hanya niat untuk kekuasaan? Kekuasaan pun nantinya akan berakhir. Ingin populer? Belum tentu populer kebaikannya. Bisa jadi yang populer adalah aibnya.

Luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar. Pasrahkan hasilnya kepada Allah.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...