Langsung ke konten utama

Bertetangga

Catatan dari perbincanganku dengan seorang kawan

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa ada interaksi dengan manusia lainnya. Maka kehadiran tetangga dalam kehidupan sehari-hari sangat dibutuhkan.


Kata tetangga mencakup semua disekitar kita tanpa melihat agama, teman dan lawan, orang asing dan penduduk asli, yang memberi manfaat dan yang tidak memberi manfaat, kerabat dekat dan bukan kerabat dekat, rumah yang paling dekat dan paling jauh.

Sudah semestinya kita menjaga adab dalam bertetangga. Seperti:

Mengusahakan semaksimal mungkin untuk tidak menghalangi tetangga mendapatkan sinar matahari atau udara. Kita juga tidak boleh melampaui batas tanah milik tetangga kita, baik dengan merusak ataupun mengubah, karena hal tersebut dapat menyakiti perasaannya.

Tidak menghalangi tetangga untuk menancapkan kayu atau meletakkannya di atas dindingnya untuk membangun kamar, misalnya. Akan tetapi, tidak boleh memanfaatkan bangunan dan menyandarkannya kepada tembok tetangganya karena akan menimbulkan 'mudharat' sebab tidak boleh memberi bahaya dan membahayakan orang lain.

Saling menjaga harta dan kehormatan dari tangan orang jahat, baik saat tetangga tidak di rumah maupun di rumah, memberi bantuan kepada yang membutuhkan, serta menjaga mata kita terhadap anggota keluarga tetangga yang wanita dan merahasiakan aib tetangga.

Kawan ku menambahkan bahwa tetangga yang paling dekat memiliki hak-hak yang tidak dimiliki oleh tetangga jauh. Seharusnya hak tetangga yang paling dekat lebih didahulukan daripada hak tetangga yang jauh. Itu berlaku pula jika kita memiliki sesuatu untuk dibagikan tetapi jumlah terbatas. Selain itu, sesungguhnya tetangga yang dekat lebih cepat memberi pertolongan ketika terjadi perkara-perkara penting, terlebih lagi pada waktu-waktu lalai.

Tidak mengganggu tetangga seperti mengeraskan  suara radio atau TV, tidak melempari halaman mereka dengan kotoran atau menutupi jalan bagi mereka. Tidak dihalalkan mengganggu tetangganya dengan berbagai macam gangguan.

Sudah seharusnya kita mengajak tetangga agar berbuat yang baik untuk orang lain dan mencegah perbuatan yang melanggar nilai-nilai dengan bijaksana dan nasehat baik, tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekkan.

Kita jenguk tetangga kita apabila ia sedang sakit, kita tanyakan kehadirannya apabila ia tidak ada, bersikap baik apabila kita menjumpainya dan sesekali mengundang mereka untuk datang ke rumah kita. Karena sesungguhnya, sebaik-baik manusia adalah yang akhlaknya paling baik.

Tidak mencari-cari kesalahan tetangga. Jangan pula bahagia apabila mereka salah/keliru, bahkan seharusnya kita tidak memandang kekeliruan dan kealpaan mereka.

Dalam perbincangan kami, dia memberi nasehat menangapi curhatanku: Ketika kita berinteraksi dengan manusia, pasti ada suatu kekurangan atau perlakuan yang kurang baik dari sebagian mereka kepada sebagian lainnya, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Tahanlah marah dan maafkan orang lain, jika kita diganggu sehingga kita marah dan hati kita penuh dengan kekesalan yang mengharuskan kita membalasnya dengan perkataan dan perbuatan. Tahanlah marah lalu bersabarlah dan janganlah membalas  orang yang berbuat jahat kepadamu. Tetaplah berbuat kebaikan. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...