Langsung ke konten utama

Menepis Berita Yang Beredar

Saat seseorang mendengar berita miring atau fitnah, hampir selalu akan tergerak untuk menepisnya. Mungkin dengan menginformasikan melalui ponsel kepada sang penerima berita tentang pemberitaan yang tidak sesuai dengan pernyataan seseorang untuk sekedar mengatakan bahwa itu tidak benar dan atau meng-konfirmasi kepada (yang mereka sebut) sumber berita.


Beredarnya berita miring atau fitnah memang sangat meresahkan dan bisa membuat orang melakukan hal-hal yang mungkin untuk pertama kalinya mereka lakukan guna menepis berita atau fitnah yang beredar. Terlebih, ketika fitnah itu dianggap sudah keterlaluan dan mengganggu privacy. 

Setiap orang pasti tidak ingin harga dirinya hancur, apalagi ketika dia selalu menjaga diri untuk berusaha menjadi orang baik-baik, tentunya akan merasa tidak pantas mendapatkan fitnah-fitnah. Seseorang bisa melakukan apa saja untuk membuktikan bahwa fitnah itu tidak benar dan membeberkannya kepada publik dan bisa pula bertindak dengan menjerat pelaku yang memfitnah.

Berita yang muncul dengan sebuah rekayasa, pasti akan membuat seseorang tidak berhenti memperjuangkan kebenarannya, walaupun ada juga tipe-tipe manusia yang tidak ingin terpengaruh dengan berita yang beredar.

Biasanya mereka cenderung menghadapi semuanya seperti sebelumnya dan menjadikannya sebagai tantangan untuk dirinya sendiri untuk dihadapi.

Meski mungkin orang-orang sekitarnya kehilangan kepercayaan padanya atau mendapatkan cacian, orang-orang seperti ini akan tetap berusaha menjaga kepercayaan dirinya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa hal itu akan sangat berat, meski semuanya terlihat seperti biasanya tetapi beberapa hal akan mulai menjadi rumit.

Oleh sebab itu, marilah berusaha untuk tidak asal bicara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...