Langsung ke konten utama

Bersukacita karena banyaknya rahmat yang telah Allah tunjukan sampai hari ini

Dari usia awal manusia, apakah di waktu kemenangan atau lebih terutama di waktu krisis, manusia melantunkan doa permohonan, pujian dan penghormatan kepada sang Khalik. Dan tidak pernah memiliki harapan yang goyah yang mereka tempatkan pada sang Raja Ilahi atau iman bahwa Allah memerintah dengan perhatian di seluruh dunia dengan kemuliaan.
Setelah bencana mengerikan yang telah mengurangi banyak kota berkembang, kota dan desa-desa menjadi reruntuhan, kita melihat banyak kesedihan, banyak kejahatan moral yang besar sedang menyebar di penjuru negeri dalam apa yang digambarkan sebagai kekerasan. Kadang-kadang kita melihat keadilan memberikan solusi dan di satu sisi yang lainnya kemenangan pada kekuatan korupsi. Ancaman krisis yang menakutkan ini menjadikan kita terisi dengan penderitaaan yang besar, yang membuat kita meminta bantuan dan meningkatkan bakti hormat kepada sang Empunya Kemuliaan.
Kita melihat banyak orang memberi kesaksian untuk iman mereka dan semangat kasih mereka. Di semua bagian dunia kita belajar mengenal Allah.
Kita juga sangat tahu bahwa kita telah juga mengambil keuntungan dari setiap kesempatan -melalui kita sebagai penonton TV dan pendengar radio untuk menasehati anak-anak kita bahwa ada cinta yang kuat dan lembut di dalam Allah.
Dan sekarang kita dibawa pada kesimpulan untuk (seyogyanya) menjadi manusia bahagia dan bermanfaat bagi sesama.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...