Langsung ke konten utama

Pulang Kampung

Dulu, saya selalu menggunakan kesempatan cuti bersama Lebaran untuk pulang ke kampung. Tradisi open house (istilah jaman ini) di rumah nenek. Biasanya saya tidak berlama-lama di sana, cuti kantor tidak sampai satu minggu jika lebaran tidak berjajar dengan hari Sabtu dan Minggu atau libur lainnya. Setelah pulang dari sana biasanya hari pertama disibukkan dengan saling bersalaman. Dan biasanya pimpinan selalu memberi saya ucapan selamat idul fitri meski saya tidak ikut merayakannya. Saya pun juga selalu menjawab maaf pak, saya tidak ikut merayakan. Biasanya si bapak ini langsung minta maaf tapi selalu hal tersebut berulang setiap tahun. Menurut kawan-kawan, dia mengira saya beragama Islam karena saya orang Jawa. Saya hanya bisa menghela nafas panjang dan tidak mengerti, bagaimana seorang pimpinan sebuah perusahaan yang katanya lulusan luar negeri masih menilai orang dengan sebuah pakem bahwa orang Jawa = Islam, orang Cina = Nasrani, orang NTT = Nasrani, orang Madura = Islam dan lain-lain. Pantas saja jika masyarakat Indonesia menilai bahwa perang Palestina - Israel adalah perang agama. Karena pakem-pakem seperti itulah yang banyak berkembang di masyarakat. Bahkan masyarakat sekelas bos.
Bila di rumah nenek ada acara halal bihalal, itu karena memang nenek, bu de pak de beragama Islam. Dan bila ayah terlibat dalam acara halal bihalal, itu karena ayah kepala sekolah. Semua itu tidak menjadi masalah bagi kami. Dan saya sendiri selalu happy, meski harus berdesak-desakan saat pulang ke rumah nenek. Tidak ada panganan mewah, kalau kata nenek hanya 'jajan ndeso'. Biar ga terlalu ndeso, biasanya saya bawakan buat nenek 'jajan kota' hehehe...
Karena nenek saya paling 'sepuh' dan termasuk angkatan yang 'babat alas' desa tersebut, tamu berdatangan tidak cukup satu hari. Biasanya tamu mengalir sampai seminggu dari hari pertama lebaran bahkan sampai sebulan. Walaupun setelah seminggu, biasanya semakin berkurang.
Dari pertemuan setiap satu tahun ini lah, kami bisa saling mengenal keluarga besar ayah. Rata-rata profesi mereka adalah guru. Kata salah seorang keponakan ayah, mereka terinspirasi ayah, sehingga banyak dari mereka ingin menjadi guru. Padahal, guru jaman itu penghasilan rata-rata tidak sangat besar...tapi by the way saya bangga punya ayah yang menginspirasi. Ada juga TNI, bidan, perawat, petani juga banyak dan lain-lain. Mereka datang dengan cerita masing-masing.
Kurang lebih enam tahun setelah saya menikah, saya mulai jarang pulang ke rumah nenek. Dalam enam tahun hanya dua kali lebaran saya pulang. Lebaran pertama setelah kami menikah dan tahun ketiga. Suami nampaknya keberatan untuk ikut terlibat dalam tradisi kami. Jadi lebaran, lebih sering berada di tempat kelahiran ayahnya atau bepergian sendiri atau stay at home. Ini menyedihkan hati saya. Tapi saya juga tidak mungkin pulang sendiri, walaupun saya bisa. Alasannya sederhana, menghindari fitnah. Mungkin saja mereka akan kembali mengatakan bahwa saya bukan istri yang baik karena begini begitu seperti yang pernah saya dengar lima tahun yang lalu dinyatakan oleh saudara suami. Memang, nenek sudah meninggal tetapi ketika saya menikah, masih ada bude walaupun (kalau ga salah) dua tahun yang lalu bude meninggal kemudian disusul ayah setahun kemudian. Saat ayah sakit dan masuk RS, itu pun saya sedang berada di desa kelahiran ayah mertua. Saya ingat, pagi dini hari saya mendapat telepon dari kakak memberi kabar ayah masuk RS. Namun suami tetap dengan rencananya yang ingin jalan-jalan dan menunggu kedatangan saudaranya anak dari bu de nya. Hari itu saya dengan berat hati tetap memasang senyum walau ada rasa gelisah dan kuatir di hati. Baru keesokan harinya, kami pulang ke rumah orangtua. Dari peristiwa hari itu, saya mengingat satu perkataan ayah, mengapa saya berada lama bersama ayah dalam keadaan ayah sakit. "Lain kali kalau libur banyak, mbok ya yang lama di rumah." Maksudnya menemani ayah di rumah bukan di rumah sakit. Sejak hari itu, ayah keluar masuk rumah sakit sampai pada meninggalnya. Ya...pada akhirnya saya memang menemani ayah, tapi di kala sakit di RS, tidak seperti harapannya.
Bila saya pulang ke rumah nenek, sebenarnya tidak banyak yang berubah. Hanya beberapa rumah penduduk yang sudah dibangun 'magrong-magrong'. Suasana juga berubah, tidak semeriah dulu ketika masih ada nenek. Bagi saya, tetap ada yang hilang, karena keberadaan nenek itulah yang membuat saya menikmati suasana.
Ada orang-orang lama yang masih saya jumpai, ada yang sudah sakit-sakitan dan seperti tidak lagi merasa hidup ini jndah. Bahkan ketika kami berkunjung, hanya ada kelelahan di raut wajahnya. Banyak orang yang dulu ramah sudah tak ramah lagi. Apakah karena saya terlalu lama tidak datang sehingga mereka lupa? Entahlah...
Pulang kampung menjadi agenda rutin setiap tahun bagi orang-orang yang merantau. Jalanan menjadi padat pada waktu menjelang atau pas lebaran. Saat pulang di libur lebaran, biasanya saya mengunjungi saudara atau lebih dikenal dengan istilah silaturrahmi. Yang terutama mengunjungi nenek, biasanya kami melakukan sungkem kepada nenek. Saling memohon maaf atas kesalahan masing-masing. Itulah yang biasanya kami lakukan pada saat hari raya Idul Fitri.
Harus saya akui, lama-lama dirantau tak selamanya enak.  Perasaan ingin pulang (kampung) itu kerap muncul manakala rutinitas di rantau sudah sedemikian membosankan, membuat tidak produktif, merasa stuck, dan sudah mati rasa. Jika sudah demikian, maka obat mujarabnya harus segera dipenuhi, yaitu segera pulang kampung.
Ketidakhadiran salah satu anak di saat semua ngumpul, tentu membuat orangtua merasa kehilangan. Rasanya tidak komplet. Tidak afdol. Itu juga yang dirasakan dan diungkapkan oleh ayah dan ibu manakala salah satu dari kami absent. Dalam rangka pulang kampung, saya rela berdesak-desakan di bis atau bangun pagi-pagi benar jika tidak ingin 'uyel-uyelan'
Biasanya akan terjadi kenaikan tarif angkutan disaat lebaran. Tapi tak apalah. Uang bukan menjadi masalah utama. Yang menjadi prioritas adalah bisa pulang saat lebaran. Biasanya, saya membawa 'sesuatu' untuk nenek. Entah berupa kue-kue lebaran, sirup kesukaan nenek, mukena untuk sholat, dan lain-lain. Pemberian saya yang terakhir adalah jarik atau kain panjang untuk dipakai di hari raya. Saya kirimkan itu sebelum lebaran, namun sayang nenek tidak sempat memakainya karena lebih dulu menghadap Tuhan seminggu sebelum lebaran.
Kebahagiaan seorang perantau akan terasa begitu berharga, saat ia bisa membawakan “sesuatu” untuk orang yang dikasihinya. Tak soal apakah mahal atau murah. Yang penting barang yang dibawa sebagai hadiah itu disukai oleh calon penerimanya. Entah itu penerimanya orangtua, kakak, adik, ponakan, kerabat dekat dan jauh, bahkan tetangga. Kekuatan dan kenikmatan berbagi benar-benar terasa. Tak terbantahkan lagi, bahwa Indonesia punya budaya mudik yang unik. Mungkin ini budaya yang jarang dianut masyarakat dari negara lain. Proses perputaran uang benar-benar luar biasa.
Pulang kampung juga bisa menjadi momentum bagi seseorang untuk kembali melakukan renungan, refleksi, dan menyiapkan semangat baru. Banyak hal yang bisa diambil hikmah saat pulang ke kampung. Mulai dari kearifan lokal, sampai kepandiran masyarakat yang sulit dipercaya. Semua lengkap. Intinya, pulang kampung, adalah mencari inspirasi, melepas lelah batin, merevitalisasi semangat berkarya dengan semangat ’45.
Yang masih punya mama-papa, dan bertemu tiap hari, harusnya bersyukur. Cobalah melakukan sesuatu spesial untuk mereka. Beri kejutan pada orangtua. Tak perlu mahal. Bisa beri hadiah, kecupan, pelukan, yang sifatnya spontan, tanpa direncanakan. Mumpung mereka masih ada di dunia. Kapan lagi?
Namun, bagi yang sudah tak punya orangtua, jangan bersedih. Bisa mendoakan mereka kapanpun, dimanapun. Itu akan melapangkan jalan mereka ke surga. Nah, untuk yang dari dulu hubungannya kurang harmonis dengan orangtua sendiri atau orangtua angkat, cobalah membuat terobosan. Bertindaklah, mengambil alih dan mendikte keadaan. Tak perlu gengsi. Buang saja gengsi jauh-jauh sebelum terlambat dan menyesal. Berikan penghargaan yang tinggi dan tulus kepada mereka. Muliakan mereka. Kekerasan hati mereka pasti bisa takluk dan luluh. Seorang teman, seorang pengajar muda di sebuah SD mendapatkan pelajaran hidup saat berhasil menaklukkan hati muridnya yang bandel, namun pintar. “Penghargaan, itu membuat hati seseorang itu jadi lembut”. Muridnya yang dijuluki “little monster”, susah diatur, suatu saat diberi kepercayaan mengajarkan murid kelas 1 & 2 karena guru lain tak bisa datang, terhalang banjir di sungai. Secara mengejutkan, ia berhasil membimbing adik kelasnya tadi membuat wujud nyata dari segitiga, jajaran genjang, persegi panjang dan lain sebagainya. Ketika adik kelasnya mengucapkan “terima kasih” bersama-sama di depan kelas, si “little monster” yang terkenal galak, susah diatur, dan hiperaktif itu, ternyata bisa tersipu malu sambil garuk-garuk kepala ketika dipuji, diberi penghargaan setimpal. Berikutnya, ia jadi “pembela” dan “pelindung” murid kelas 1 & 2 dari gangguan murid yang lebih senior. Hati manusia, sekeras apapun, pasti bisa ditaklukkan. Itu sudah hukum alam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...