Kami memutuskan untuk hengkang dari Surabaya bulan Desember 2011 (kalau ga salah). Kurang lebih 2,5 tahun. Jujur, terkadang saya masih kangen dengan kebersamaan kawan-kawan di Surabaya. Namun, saya tak ingin terlarut dengan rasa kangen itu. Saya mencoba 'move on' dan mengembangkan pergaulan sebagai warga baru di tempat saya sekarang.
Dulu, bisa sewaktu-waktu datang dan pergi ke rumah mereka. Ke mana-mana bisa saling support. Sekarang benar-benar sudah sendiri, mengandalkan diri sendiri. Bersama mereka, banyak pelajaran saya dapatkan.
Selepas SMA, status saya jadi anak kost, karena itu saya menyadari arti hadirnya seorang teman atau sahabat apalagi keluarga. Mereka sangat penting. Saat kita berada di tempat yang berbeda, jauh dan lagi sendiri kita akan merasakan kesepian, kangen dan membutuhkan mereka. Apalagi kalau kita lagi jatuh sakit...
Ini pernah saya rasakan, ketika sebulan setelah kami tinggal di tempat kami sekarang suami jatuh sakit (selalu setiap kami pindah, di bulan pertama suami sakit). Sakitnya sederhana, panas, batuk dan pilek. Tetapi sesederhana apa pun, jika suami yang sakit kondisi dan keadaannya lebih menakutkan. Dia jarang sakit. Dan bila sakit, akan lebih 'heboh' di rasanya. Saat itu, kami belum tahu lingkungan sekitar. Jadi kesulitan mencari dokter. Ada klinik, tetapi buka terlalu siang, sedang suami 'sambat-sambat'. Akhirnya, kami masuk UGD sebuah RS Swasta Kecil. Diperiksa, diberi obat. Sendiri, ada yang sakit, tidak ada teman ataupun keluarga, tidak ada yang dimintai tolong jika terjadi apa-apa. Saya merasa, betapa penting arti mereka bagi saya. Meski terkadang hanya sekedar menengok, menghiburkan hati dan bantuan-bantuan kecil lainnya. Saya merasa ternyata saya kesepian tanpa mereka. Saya kangen berat. Kangen berada di tengah-tengah mereka. Kangen kebersamaan. Kangen kemesraan.
Saat itu saya berpikir, bagaimana saya harus bisa survive sendiri, bila sakit, memikirkan kebutuhan sendiri, melayani diri sendiri dan pasangan dan menyelesaikan semuanya. Walaupun, jika saya sakit, saya selalu ingat masa-masai indah kebersamaan. Ada ayah yang menyuapi saya jika saya susah makan, ada ibu yang selalu membujuk saya untuk minum obat atau ke dokter, ada adik saya yang selalu memanfaatkan situasi dengan membisikkan kepada saya untuk minta beli sate, bakso, mie goreng atau apapun makanan kesukaannya hehehe... Ketika saya kost, ada kakak saya yang selalu menyediakan saya makanan untuk dimakan, ada teman-teman kost yang peduli dan ada seorang ibu yang seperti ibu saya, selalu siap membantu (thanks bu Diana).
Meski waktu di Surabaya saya kost, saya merasa nyaman dan tetap berasa mempunyai keluarga. Ada yang memperhatikan dan memperlakukan saya seperti keluarga sendiri. Terlebih ketika saya masuk dalam sebuah komunitas, saya seolah berada dalam keluarga besar. Ada seorang ibu yang suka sekali memberi nasehat pada saya dan menganggap saya seperti anak sendiri. Salah satu nasehatnya adalah agar kita senantiasa berbuat baik pada orang lain, suatu saat pasti ada balasan lebih baik lagi dari Allah, walaupun balasan itu tidak selalu dalam bentuk materi. Ada juga seorang bapak yang tahu makanan apa yang saya suka dan tidak, sehingga dipastikan jika kami mengadakan acara, saya akan menjumpai makanan yang sesuai dengan selera saya. Dan orang-orang muda di komunitas itu yang selalu saling menyuport dalam banyak hal. Saat saya menikah ada saja support dari kawan-kawan, ada yang menyumbangkan suara untuk mengiringi saat pemberkatan nikah, membantu dokumentasi, transportasi dan tenaga dan menyediakan waktu untuk hadir di acara. Saat suami ikut sebuah klub motor...bertambah pula keluarga besar saya. Saya ingat, ketika ayah saya di rawat di RS dan membutuhkan trombosit dari darah O (golongan darah ayah saya O) dan itu akan lebih baik jika berasal dari darah yang baru diambil. Saat itu malam hari. Saya meminta suami untuk menshare kan di grup klub motor ini. Seorang kawan yang tinggal di Madura, langsung bersedia untuk datang agar malam itu dapat diambil darahnya. Diam-diam saya meneteskan air mata karena rasa haru. Selain itu, ada juga kawan-kawan dari komunitas saya yang dengan sungguh-sungguh membantu dengan spirit dan penghiburan bagi kami entah dalam bentuk kehadiran mereka diantara kami, sekedar menelepon untuk menguatkan kami dan juga berdoa bagi kami dan ayah kami.
Saya merasa bersyukur berada diantara mereka. Mereka membuat saya merasa tinggal dengan orangtua dan saudara-saudara sendiri. Puji Tuhan, sampai sekarang hubungan silahturahmi masih terjaga, walaupun tidak sering, terkadang saat libur, kami berkunjung ke rumah mereka.
Terimakasih banyak untuk semua kawanku. Anda semua memang bukan orangtua dan saudara kandung saya sendiri, tetapi Anda semua telah menjadikan saya seperti anak dan saudara kandung sendiri. Semoga Allah menjadikan keluarga kita masing-masing, sebagai keluarga yang dirindukan surga. Amin.
Semoga kita takkan pernah terpisah, hingga kelak maut memisahkan dan kita berkumpul kembali di tempat yang indah itu. Amin
Miss U All... Love U All
Dulu, bisa sewaktu-waktu datang dan pergi ke rumah mereka. Ke mana-mana bisa saling support. Sekarang benar-benar sudah sendiri, mengandalkan diri sendiri. Bersama mereka, banyak pelajaran saya dapatkan.
Selepas SMA, status saya jadi anak kost, karena itu saya menyadari arti hadirnya seorang teman atau sahabat apalagi keluarga. Mereka sangat penting. Saat kita berada di tempat yang berbeda, jauh dan lagi sendiri kita akan merasakan kesepian, kangen dan membutuhkan mereka. Apalagi kalau kita lagi jatuh sakit...
Ini pernah saya rasakan, ketika sebulan setelah kami tinggal di tempat kami sekarang suami jatuh sakit (selalu setiap kami pindah, di bulan pertama suami sakit). Sakitnya sederhana, panas, batuk dan pilek. Tetapi sesederhana apa pun, jika suami yang sakit kondisi dan keadaannya lebih menakutkan. Dia jarang sakit. Dan bila sakit, akan lebih 'heboh' di rasanya. Saat itu, kami belum tahu lingkungan sekitar. Jadi kesulitan mencari dokter. Ada klinik, tetapi buka terlalu siang, sedang suami 'sambat-sambat'. Akhirnya, kami masuk UGD sebuah RS Swasta Kecil. Diperiksa, diberi obat. Sendiri, ada yang sakit, tidak ada teman ataupun keluarga, tidak ada yang dimintai tolong jika terjadi apa-apa. Saya merasa, betapa penting arti mereka bagi saya. Meski terkadang hanya sekedar menengok, menghiburkan hati dan bantuan-bantuan kecil lainnya. Saya merasa ternyata saya kesepian tanpa mereka. Saya kangen berat. Kangen berada di tengah-tengah mereka. Kangen kebersamaan. Kangen kemesraan.
Saat itu saya berpikir, bagaimana saya harus bisa survive sendiri, bila sakit, memikirkan kebutuhan sendiri, melayani diri sendiri dan pasangan dan menyelesaikan semuanya. Walaupun, jika saya sakit, saya selalu ingat masa-masai indah kebersamaan. Ada ayah yang menyuapi saya jika saya susah makan, ada ibu yang selalu membujuk saya untuk minum obat atau ke dokter, ada adik saya yang selalu memanfaatkan situasi dengan membisikkan kepada saya untuk minta beli sate, bakso, mie goreng atau apapun makanan kesukaannya hehehe... Ketika saya kost, ada kakak saya yang selalu menyediakan saya makanan untuk dimakan, ada teman-teman kost yang peduli dan ada seorang ibu yang seperti ibu saya, selalu siap membantu (thanks bu Diana).
Meski waktu di Surabaya saya kost, saya merasa nyaman dan tetap berasa mempunyai keluarga. Ada yang memperhatikan dan memperlakukan saya seperti keluarga sendiri. Terlebih ketika saya masuk dalam sebuah komunitas, saya seolah berada dalam keluarga besar. Ada seorang ibu yang suka sekali memberi nasehat pada saya dan menganggap saya seperti anak sendiri. Salah satu nasehatnya adalah agar kita senantiasa berbuat baik pada orang lain, suatu saat pasti ada balasan lebih baik lagi dari Allah, walaupun balasan itu tidak selalu dalam bentuk materi. Ada juga seorang bapak yang tahu makanan apa yang saya suka dan tidak, sehingga dipastikan jika kami mengadakan acara, saya akan menjumpai makanan yang sesuai dengan selera saya. Dan orang-orang muda di komunitas itu yang selalu saling menyuport dalam banyak hal. Saat saya menikah ada saja support dari kawan-kawan, ada yang menyumbangkan suara untuk mengiringi saat pemberkatan nikah, membantu dokumentasi, transportasi dan tenaga dan menyediakan waktu untuk hadir di acara. Saat suami ikut sebuah klub motor...bertambah pula keluarga besar saya. Saya ingat, ketika ayah saya di rawat di RS dan membutuhkan trombosit dari darah O (golongan darah ayah saya O) dan itu akan lebih baik jika berasal dari darah yang baru diambil. Saat itu malam hari. Saya meminta suami untuk menshare kan di grup klub motor ini. Seorang kawan yang tinggal di Madura, langsung bersedia untuk datang agar malam itu dapat diambil darahnya. Diam-diam saya meneteskan air mata karena rasa haru. Selain itu, ada juga kawan-kawan dari komunitas saya yang dengan sungguh-sungguh membantu dengan spirit dan penghiburan bagi kami entah dalam bentuk kehadiran mereka diantara kami, sekedar menelepon untuk menguatkan kami dan juga berdoa bagi kami dan ayah kami.
Saya merasa bersyukur berada diantara mereka. Mereka membuat saya merasa tinggal dengan orangtua dan saudara-saudara sendiri. Puji Tuhan, sampai sekarang hubungan silahturahmi masih terjaga, walaupun tidak sering, terkadang saat libur, kami berkunjung ke rumah mereka.
Terimakasih banyak untuk semua kawanku. Anda semua memang bukan orangtua dan saudara kandung saya sendiri, tetapi Anda semua telah menjadikan saya seperti anak dan saudara kandung sendiri. Semoga Allah menjadikan keluarga kita masing-masing, sebagai keluarga yang dirindukan surga. Amin.
Semoga kita takkan pernah terpisah, hingga kelak maut memisahkan dan kita berkumpul kembali di tempat yang indah itu. Amin
Miss U All... Love U All
Komentar