Langsung ke konten utama

Jika Orang Bicara Mengenai Kita Di Belakang

Sebuah permasalahan dari masa lalu membuat seseorang terkadang tidak leluasa untuk beraktivitas atau melakukan sesuatu, namun untuk menghindarinya pun tak dapat. Rasa sakit yang tercipta karenanya pun akan menjadi begitu parah dan pada akhirnya hanya akan membuat air mata terjatuh.
Pada saat itu tempat pelarian satu-satunya adalah TUHAN. Berharap mempunyai kekuatan, kepercayaan diri untuk menghadapi cobaan. Sejarah hidup tidak dapat diubah, yang bisa adalah memiliki sedikit kekuatan untuk melampaui dan bangkit.
Di saat seperti itu seringkali sulit untuk menemukan seseorang yang benar-benar peduli. Yang mudah ditemukan adalah orang yang justru memperbincangkan kita dibelakang. Suara mereka terdengar jelas, kadang berbisik sebelum akhirnya tawa meledak. Tawa dan komentar sinis sahut menyahut.
Budaya membicarakan keburukan orang lain dibelakang tidak dapat terlepas dari kehidupan dan pergaulan sehari-hari. Cobalah sejenak untuk tidak berada dalam komunitas ini dan hanya menjadi pendengar saja. Tanyalah pada diri apa manfaatnya, apa untungnya, bukankah lebih baik memberi saran kepada orang tersebut apabila ada yang tidak berkenan. Kalau hanya membicarakan di belakang, tentu orang tersebut tidak pernah menyadari bahwa perbuatannya tidak baik (jika memang benar dia melakukan perbuatan tidak baik, tetapi jika tidak...bukankah hanya akan menjadi sebuah fitnah???)
Seseorang pernah membicarakan saya di belakang ketika ada satu masalah dalam keluarga. Yang terdengar... seseorang mengatakan saya bukan istri yang baik, sibuk dengan kegiatan di luar rumah, tidak pernah memasak untuk suami, tidak mau cuci baju, boros dll. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Saya seorang istri bekerja, tapi tiap pagi saya tidak pernah lupa membuat sarapan dan segelas kopi untuk suami (saya ingat, pertama kali saya membuatkan kopi dan sarapan, suami mengatakan kalau di rumahnya tidak ada tradisi/kebiasaan minum teh/kopi di pagi hari), sore hari pulang kantor saya memasak untuk makan malam kami dan di akhir pekan saya mencuci pakaian. Dalam sepekan, di hari Selasa dan Jum'at tiap pukul 19.00 - 21.00 WIB saya latihan paduan suara untuk pelayanan di Gereja. Selebihnya saya di rumah. Untuk masalah keuangan... saya tidak pernah meminta uang dari suami, apalagi menghambur-hamburkan uangnya. Tetapi justru saya yang menutup hutang-hutang suami dan tuntutan seseorang kepada suami atas masalah yang dibuatnya.
Saya sangat heran ketika 'bisik-bisik' itu pada akhirnya sampai ke telinga saya. Bagian mana dari apa yang saya lakukan menunjukkan saya bukan istri yang baik??? Bukankah lebih baik dinyatakan di depan saya, menanyakan pendapat saya atau mencari kebenaran daripada mempergunjingkannya? Jika merasa hebat, bukankah sebaiknya bicara di depan? Tidak semua yang terlihat itu seperti yang terlihat, tidak semua yang terdengar seperti yang terdengar. Tidak semua buku mempunyai isi sebagus atau sejelek sampulnya.
Dalam perjalanan waktu, saya berusaha menyadari bahwa di luar diri saya ada orang (entah banyak atau sedikit) yang berusaha mencari keburukan-keburukan orang lain dan menggunjingkannya satu sama lain. Ada seseorang diantara mereka yang suka 'makan daging saudaranya'. Meski rasa sakit akibat perbuatannya masih terasa, saya berusaha mampu mendoakan siapa pun mereka yang melakukannya untuk bertobat.  Panjang jalan bisa diukur, panjang lidah siapa yang tahu? Menjaga lidah itu adalah lebih baik. Lidah bisa melebih-lebihkan cerita yang sesungguhnya, juga bisa menyebarkan gosip, memfitnah orang dan mengejek orang. Kuasa dari sebuah lidah, bisa menyebarkan rumor hingga ribuan kilometer. Jadi lebih baik bagi nya atau bagi saya atau siapa pun itu untuk berkata yang baik atau (kalau tidak) diam.

Mengutip dari status seorang teman di FB

Jika ada orang bicara mengenai kita di Belakang...,
itu adalah tanda bahwa kita sudah ada di DEPAN....

Saat orang bicara Merendahkan diri kita....,
itu adalah tanda bahwa kita sudah berada di tempat yg LEBIH TINGGI..

Saat orang Bicara dengan Nada iri mengenai kita...,
itu adalah tanda bahwa kita sudah jauh LEBIH BAIK dari mereka..

Saat orang Bicara Buruk mengenai kita, padahal kita tidak pernah Mengusik kehidupan Mereka...,
itu adalah tanda bahwa kehidupan kita sebenarnya LEBIH INDAH dari mereka..

"Payung tidak dapat menghentikan Hujan,
tapi membuat kita Berjalan menembus hujan untuk Mencapai Tujuan...!!"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...