Langsung ke konten utama

Pantaskah ....

Ketika saya berada dalam rumah Tuhan, tiba-tiba ada pertanyaan yang mengganggu lubuk hati saya. Pantaskah saya masuk rumah Tuhan dan mendapatkan rahmat Tuhan, sementara hati saya berdosa. Pantaskah saya duduk dihadapanNya, sedangkan pikiran dan pandangan saya terkadang tidak terjaga. Masihkah saya berharap Tuhan mengasihi saya, padahal, sulit untuk mengampuni mereka yang bersalah. Dalam diam saya berpikir, apakah mereka, para koruptor, pembunuh dan pelaku kejahatan lainnya ataupun para pejabat dan yang bukan pejabat namun berlaku adigang adigung adiguna pernah mendapatkan pertanyaan ini dalam diri mereka? Jika ya, bagaimana cara mereka mengatasinya? Pertanyaan tersebut memaksa saya untuk memikirkannya hingga saya pulang ke rumah.

Beberapa hari setelah hari itu, saya meluangkan waktu untuk mencari tahu tentang kehidupan mereka yang sudah bertobat. Saya menemukan cerita kehidupan Johnny Indo, Anton Medan dan beberapa yang lain. Namun saya merasa 'tidak mendapat apa-apa' dengan membaca kisah mereka.
Saya memandang di sekitar saya. Pantaskah si Ria (bukan nama sebenarnya), memohon ampunan Tuhan, sementara dia pernah melakukan fitnah dan menuduh saya mencuri di dua kesempatan dan kasus yang berbeda? Pantaskah ia mengharapkan kebaikan Tuhan, sementara ia gemar berlaku munafik. Begitu baik dihadapan orang lain (cara bicara, tutur kata dan tingkah laku serta sikapnya) tetapi berbalik menjadi orang yang tidak menyenangkan dan kurang santun pada orangtua, bersikap sok kuasa, berlaku seenaknya terhadap barang orang lain, pinjam pakai seenaknya dan menerobos wilayah pribadi tanpa permisi, mencari kesalahan orang lain dan menjadikannya kambing hitam jika suatu permasalahan muncul, dll hal yang tak menyenangkan. Bagaimana ia melalui semuanya itu dan tetap bisa nyaman menjalani ritual keagamaannya?
Sampai pada titik tertentu, saya menyadari, betapa angkuh dan sombongnya saya! Saya membenci, memusuhi dan marah kepada orang yang berlaku tidak menyenangkan terhadap diri saya dalam bobot yang berat, sedang ataupun ringan namun masih berharap mendapat cinta dan rahmat Tuhan. Betapa banyak stigma buruk yang saya berlakukan terhadap mereka. Menutup mata atau pura-pura tidak tahu, bahwa mereka melakukan perbuatan baik juga, bahkan dalam perbuatan mereka yang tidak baik. Disaat-saat sulit yang saya alami karena perbuatan yang tidak menyenangkan yang saya terima, saya tahu (bahkan lebih berasa) Tuhan ada. Bukankah DIA yang menempatkan orang-orang menjadi pembela dan pendoa bagi saya? DIA juga yang menjadi penolong bagi saya. DIA juga yang memelihara hidup saya, bahkan ketika orangtua melepas saya untuk mandiri demi anak-anaknya yang lain (maksudnya kakak dan adik-adik saya). Lantas, masih pantaskah saya?
Tuhanlah yang memberi kuasa untuk hidup, menjadikan bumi sebagai lahan kehidupan dan bukti kebesaranNYA. Siapakah manusia itu, sehingga merasa layak untuk memegahkan diri dan menganggap diri adalah segalanya? Hidup manusia tidaklah kekal. Bila memandang ke langit dan semua karya tanganNYA, sejenak memikirkannya...., saya hanyalah sebutir debu yang pada dasarnya tidak bisa dilihat dengan kasat mata, namun Tuhan sanggup melihat. Inilah kebesaran dan kuasa Tuhan, dalam setiap sisi kehidupan Tuhan selalu ada.
Dan, apakah saya pantas? Tidak! Tetapi, bukankah hanya orang sakit dan orang yang peduli pada kesehatannya yang memerlukan dokter?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Ketika Piring Pecah: Fenomena Sederhana yang Menarik Perhatian

Pernahkah kamu menaruh dua piring nasi panas di meja, lalu beberapa saat kemudian salah satu piringnya tiba-tiba pecah menjadi dua? Kejadian ini sering bikin kita terkejut, bahkan sedikit penasaran. Apakah ini cuma kebetulan, atau ada penjelasan ilmiahnya? Fenomena ini sebenarnya berhubungan dengan perbedaan suhu dan sifat material piring . Piring keramik atau porselen, misalnya, tahan panas tapi punya batas. Ketika nasi panas diletakkan di atas piring, panas dari nasi merambat ke piring, membuat permukaan piring mengembang. Kalau piringnya memiliki cacat halus atau retakan mikro , tekanan akibat pemuaian panas bisa cukup untuk membuatnya retak atau pecah. Kadang, satu piring pecah sementara yang lain aman—ini tergantung kualitas piring, ketebalan, dan distribusi panas . Selain itu, faktor lingkungan juga berperan. Meja yang dingin atau permukaan yang tidak rata bisa menimbulkan perbedaan suhu yang drastis di bagian piring , meningkatkan risiko retak. Fenomena ini sering disebut seb...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.