Ketika saya berada dalam rumah Tuhan, tiba-tiba ada pertanyaan yang mengganggu lubuk hati saya. Pantaskah saya masuk rumah Tuhan dan mendapatkan rahmat Tuhan, sementara hati saya berdosa. Pantaskah saya duduk dihadapanNya, sedangkan pikiran dan pandangan saya terkadang tidak terjaga. Masihkah saya berharap Tuhan mengasihi saya, padahal, sulit untuk mengampuni mereka yang bersalah. Dalam diam saya berpikir, apakah mereka, para koruptor, pembunuh dan pelaku kejahatan lainnya ataupun para pejabat dan yang bukan pejabat namun berlaku adigang adigung adiguna pernah mendapatkan pertanyaan ini dalam diri mereka? Jika ya, bagaimana cara mereka mengatasinya? Pertanyaan tersebut memaksa saya untuk memikirkannya hingga saya pulang ke rumah.
Beberapa hari setelah hari itu, saya meluangkan waktu untuk mencari tahu tentang kehidupan mereka yang sudah bertobat. Saya menemukan cerita kehidupan Johnny Indo, Anton Medan dan beberapa yang lain. Namun saya merasa 'tidak mendapat apa-apa' dengan membaca kisah mereka.
Saya memandang di sekitar saya. Pantaskah si Ria (bukan nama sebenarnya), memohon ampunan Tuhan, sementara dia pernah melakukan fitnah dan menuduh saya mencuri di dua kesempatan dan kasus yang berbeda? Pantaskah ia mengharapkan kebaikan Tuhan, sementara ia gemar berlaku munafik. Begitu baik dihadapan orang lain (cara bicara, tutur kata dan tingkah laku serta sikapnya) tetapi berbalik menjadi orang yang tidak menyenangkan dan kurang santun pada orangtua, bersikap sok kuasa, berlaku seenaknya terhadap barang orang lain, pinjam pakai seenaknya dan menerobos wilayah pribadi tanpa permisi, mencari kesalahan orang lain dan menjadikannya kambing hitam jika suatu permasalahan muncul, dll hal yang tak menyenangkan. Bagaimana ia melalui semuanya itu dan tetap bisa nyaman menjalani ritual keagamaannya?
Sampai pada titik tertentu, saya menyadari, betapa angkuh dan sombongnya saya! Saya membenci, memusuhi dan marah kepada orang yang berlaku tidak menyenangkan terhadap diri saya dalam bobot yang berat, sedang ataupun ringan namun masih berharap mendapat cinta dan rahmat Tuhan. Betapa banyak stigma buruk yang saya berlakukan terhadap mereka. Menutup mata atau pura-pura tidak tahu, bahwa mereka melakukan perbuatan baik juga, bahkan dalam perbuatan mereka yang tidak baik. Disaat-saat sulit yang saya alami karena perbuatan yang tidak menyenangkan yang saya terima, saya tahu (bahkan lebih berasa) Tuhan ada. Bukankah DIA yang menempatkan orang-orang menjadi pembela dan pendoa bagi saya? DIA juga yang menjadi penolong bagi saya. DIA juga yang memelihara hidup saya, bahkan ketika orangtua melepas saya untuk mandiri demi anak-anaknya yang lain (maksudnya kakak dan adik-adik saya). Lantas, masih pantaskah saya?
Tuhanlah yang memberi kuasa untuk hidup, menjadikan bumi sebagai lahan kehidupan dan bukti kebesaranNYA. Siapakah manusia itu, sehingga merasa layak untuk memegahkan diri dan menganggap diri adalah segalanya? Hidup manusia tidaklah kekal. Bila memandang ke langit dan semua karya tanganNYA, sejenak memikirkannya...., saya hanyalah sebutir debu yang pada dasarnya tidak bisa dilihat dengan kasat mata, namun Tuhan sanggup melihat. Inilah kebesaran dan kuasa Tuhan, dalam setiap sisi kehidupan Tuhan selalu ada.
Dan, apakah saya pantas? Tidak! Tetapi, bukankah hanya orang sakit dan orang yang peduli pada kesehatannya yang memerlukan dokter?
Beberapa hari setelah hari itu, saya meluangkan waktu untuk mencari tahu tentang kehidupan mereka yang sudah bertobat. Saya menemukan cerita kehidupan Johnny Indo, Anton Medan dan beberapa yang lain. Namun saya merasa 'tidak mendapat apa-apa' dengan membaca kisah mereka.
Saya memandang di sekitar saya. Pantaskah si Ria (bukan nama sebenarnya), memohon ampunan Tuhan, sementara dia pernah melakukan fitnah dan menuduh saya mencuri di dua kesempatan dan kasus yang berbeda? Pantaskah ia mengharapkan kebaikan Tuhan, sementara ia gemar berlaku munafik. Begitu baik dihadapan orang lain (cara bicara, tutur kata dan tingkah laku serta sikapnya) tetapi berbalik menjadi orang yang tidak menyenangkan dan kurang santun pada orangtua, bersikap sok kuasa, berlaku seenaknya terhadap barang orang lain, pinjam pakai seenaknya dan menerobos wilayah pribadi tanpa permisi, mencari kesalahan orang lain dan menjadikannya kambing hitam jika suatu permasalahan muncul, dll hal yang tak menyenangkan. Bagaimana ia melalui semuanya itu dan tetap bisa nyaman menjalani ritual keagamaannya?
Sampai pada titik tertentu, saya menyadari, betapa angkuh dan sombongnya saya! Saya membenci, memusuhi dan marah kepada orang yang berlaku tidak menyenangkan terhadap diri saya dalam bobot yang berat, sedang ataupun ringan namun masih berharap mendapat cinta dan rahmat Tuhan. Betapa banyak stigma buruk yang saya berlakukan terhadap mereka. Menutup mata atau pura-pura tidak tahu, bahwa mereka melakukan perbuatan baik juga, bahkan dalam perbuatan mereka yang tidak baik. Disaat-saat sulit yang saya alami karena perbuatan yang tidak menyenangkan yang saya terima, saya tahu (bahkan lebih berasa) Tuhan ada. Bukankah DIA yang menempatkan orang-orang menjadi pembela dan pendoa bagi saya? DIA juga yang menjadi penolong bagi saya. DIA juga yang memelihara hidup saya, bahkan ketika orangtua melepas saya untuk mandiri demi anak-anaknya yang lain (maksudnya kakak dan adik-adik saya). Lantas, masih pantaskah saya?
Tuhanlah yang memberi kuasa untuk hidup, menjadikan bumi sebagai lahan kehidupan dan bukti kebesaranNYA. Siapakah manusia itu, sehingga merasa layak untuk memegahkan diri dan menganggap diri adalah segalanya? Hidup manusia tidaklah kekal. Bila memandang ke langit dan semua karya tanganNYA, sejenak memikirkannya...., saya hanyalah sebutir debu yang pada dasarnya tidak bisa dilihat dengan kasat mata, namun Tuhan sanggup melihat. Inilah kebesaran dan kuasa Tuhan, dalam setiap sisi kehidupan Tuhan selalu ada.
Dan, apakah saya pantas? Tidak! Tetapi, bukankah hanya orang sakit dan orang yang peduli pada kesehatannya yang memerlukan dokter?
Komentar