Langsung ke konten utama

Gaya Hidup Orang Kaya

Punya kerbau banyak, rumah banyak, tanah atau sawah banyak dan biasanya... istri banyak seringkali menjadi ukuran orang kaya jaman dulu. Di jaman dulu pun orang kaya tak pernah mau ribet.
Mereka punya sado, delman, bendi, dokar (sebuah kendaraan khas ditarik kuda) untuk tranportasi mereka. Hobi mereka masih biasa-biasa saja, ke sawah, ngopi plus udud (rokok), ke surau dan ... tidur. Kalaupun bengal, paling nyabung ayam, pasang dadu, celingak celinguk nyari tetangga seksi.

Sumber kekayaan mereka sederhana. Jaman dulu belum ada orang main valas, tanam duit di bursa efek atau kaya mendadak karena jadi anggota DPR. Belum ada yang punya duit segunung. Usaha untuk mencari kekayaan benar-benar murni. Mungkin, ada juga yang mencari kekayaan dengan jalan gelap, misalnya mencuri atau melakukan ritual tertentu seperti di film atau sinetron tuyul... Hanya orang jago dan berpengaruh yang bisa kaya. Belum ada cerita bisa kaya karena korupsi... (atau karena belum ada KPK sehingga tidak terekspose???...hehehe...)
Cara mereka menghabiskan uang, biasanya dengan memelihara Sinden, karena Artis tidak atau belum sebanyak sekarang, juga belum ada Mall, belum ada Karaoke dan tempat dugem. Kalau tidak ya... kawin lagi... lagi... dan lagi... Atau berjudi. Bisa juga karena kelakuan anak-anak mereka yang cenderung menjadi manja. Kekayaan orangtua mereka membuat mereka pun tak pernah mau ribet.
Dari penggambaran diatas, terkesan bahwa menjalani kehidupan sebagai anak orang kaya menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Bahwa dia bisa mewujudkan hampir atau bahkan semua keinginannya tanpa harus mengalami kesulitan. Tidak pernah merasakan dan mengerti apa itu perjuangan. Perjuangan untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Demikian yang saya tangkap dari perbincangan saya dengan seorang teman lama dari pasangan saya, saat sedang melayat seorang Pastor kenalan kami yang meninggal. Dia melakukan pembenaran terhadap tindakan dirinya yang semasa mudanya lebih suka menghabiskan uangnya untuk membeli ini itu dengan alasan bahwa itulah saat kebebasannya. Saat bisa bekerja dan memiliki uang sendiri. Bahwa mereka bisa merasakan kesenangan yang selama ini tidak bisa mereka rasakan karena kondisi financial orangtua mereka. Dia berkata, bahwa orangtuanya hanya membekali mereka dengan pendidikan. Kata 'hanya' dalam kalimat inilah yang sejatinya saya kurang sepaham dengan teman tersebut.
Alur kehidupan kebanyakan orang adalah lulus sekolah, bekerja dan bila menemukan pasangan mereka menikah. Ketika merasa cukup mendapat penghasilan, memberanikan diri mencicil rumah. Ketika memiliki bayi, menjadi lebih termotivasi bekerja lebih keras. Ketika mendapat promosi dan naik gaji, mulai berani menyicil mobil. Ketika anak bertambah besar, gaji juga bertambah besar maka mulai menyicil rumah yang lebih besar. Ketika anak-anak mulai besar, menyicil mobil berikutnya. Karir melonjak, diangkat menjadi direktur, menyicil rumah mewah dan ada kolam renangnya. Terus dan terus sampai akhirnya mereka mati dan mungkin akan meninggalkan hutang.
Dalam pandangan saya, jika seseorang berusaha mendapatkan pengetahuan, menunda kesenangan, mengumpulkan uang, pengetahuan dan kenalan, ketiganya (pengetahuan, uang dan kenalan) akan menjadi satu investasi yang baik. Mengapa saya katakan demikian? Jika kita menyisihkan uang, dengan menggunakan pengetahuan serta kenalan untuk mendapatkan usaha-usaha yang menghasilkan uang (misalnya, sarang burung wallet, reksadana, saham yang menghasilkan deviden, royalty, dll), mungkin sekali kita akan mendapatkan income. Dan jika income jauh lebih besar dari gaya hidup, kita aman atau mempunyai kebebasan financial dalam arti yang sesungguhnya.
Dalam sebuah survey yang dilakukan oleh sebuah lembaga penelitian sekuler di USA yang hasil surveynya ditulis dalam buku karangan Thomas Stanley berjudul "The Millionaire Mind" ada sekitar 200 orang-orang kaya yang rata-rata sudah berumur dan mereka adalah orang kaya dalam satu generasi, artinya bukan kaya warisan, tapi kaya dengan modal zero alias kerja sendiri. Orang-orang ini diwawancarai satu persatu dan berikut 10 gaya hidup mereka.
  1. Hemat, artinya: mereka penuh pertimbangan dalam memanfaatkan uang mereka. Tipe orang yang tanya sama Tuhan tentang segala sesuatu pengeluaran. Mereka tidak diperbudak mode, meskipun tidak kuno, tapi modis. Mereka tahu dimana beli barang bagus tapi murah. 
  2. Hidup di bawah income mereka, tidak hidup gali lobang tutup lobang alias anti utang. 
  3. Sangat loyal terhadap pasangan - tidak cerai dan setia!
  4. Saat prahara, baik dalam keluarga/bisnis, kunci mereka untuk lolos adalah "Overcoming worry and fear with The Bible and pray, with faith to God. We have God and His word." 
  5. They think differently from the crowd. Mereka "man of production" bukan "man of consumption."
  6. Kunci suksesnya: Punya integritas = omongan dan janji bisa dipegang dan dipercaya, Disiplin = tidak mudah dipengaruhi dalam segala hal termasuk disiplin dalam hal makanan, mereka orang yang tidak sembarangan konsumsi makanan dan tidak serakah,  Selalu mengembangkan social skill = cara bergaul, belajar getting along with people, belajar leadership, menjual ide, mereka orang yang meng-upgrade dirinya, tidak malas belajar, Punya pasangan yg support, selalu mendukung dalam keadaan enak/tidak enak. Menurut mereka, integrity dimulai di rumah, kalau seorang suami/istri tidak bisa dipercaya di rumah, pasti tidak bisa dipercaya di luar.
  7. Pembagian waktu/aktivitas, paling banyak untuk hal-hal berikut: Mengajak anak dan cucu sport/olahraga, alasannya, dengan olahraga bisa meningkatkan fighting spirit yang penting untuk pertandingan rohani, untuk menang sebagai orang beriman, untuk bisa sportif (menerima kenyataan, tetapi dengan semangat untuk memperbaiki dan menang), Banyak memikirkan tentang investment, Banyak waktu berdoa, mencari hadirat Allah, belajar Firman. Ini menjadi lifestyle mereka sejak muda, Menghadiri kegiatan keagamaan, Sosializing with children and grand child, ngobrol, Entertaining with friends, maksudnya bergaul, membina hubungan.
  8. Memiliki keyakinan agama yang kuat, dan menurut mereka ini kunci sukses mereka
  9. Religious millionaire. Mereka tidak pernah memaksakan suatu jumlah aset kepada Tuhan, tapi mereka belajar mendengarkan suara Tuhan, berapa jumlah aset yang Tuhan inginkan buat mereka. Minta bimbingan untuk bisnis. Mereka bukan type menelan semua tawaran bisnis yang disodorkan kepada mereka, tapi tanya Tuhan dulu untuk mengambil keputusan
  10. Menjadikan Tuhan sebagai mentor
Pada dasarnya, apakah kita anak orang kaya atau bukan, kita bisa memperoleh kehidupan yang lebih bersejahtera dengan mulai mengatur gaya hidup kita.
Semoga bermanfaat (khususnya untuk saya dan pasangan dan semua pembaca pada umumnya).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...