Langsung ke konten utama

Takut Dipermalukan

Cerita ini terjadi beberapa tahun lalu, ketika pertama kali saya berada di Surabaya. Saat itu kami (saya dan teman-teman) merencanakan untuk keluar bareng-bareng. Setelah beberapa saat berembug, akhirnya diputuskan tujuan jalan-jalan adalah ke Tunjungan Plasa.

Haduuuh...saya agak dag dig dug juga waktu itu... Yang saya pikirkan cuma satu... Bisa ga ya saya naik pakai tangga berjalan??? Walaupun beberapa kali sebelum saya tinggal di Surabaya diajak juga oleh orangtua jalan-jalan dan menggunakan tangga berjalan...tapi kan beda...itu bersama orangtua saya sendiri dan dikomando saat kaki harus melangkah (hehehe...itu yang penting).
Mengungkapkan kekhawatiran saya kepada teman-teman... hmmm... agak ragu juga... jangan-jangan justru saya dipermalukan... ditertawakan... dsbnya...   Tetapi kalau ga diungkapkan, ada kemungkinan timbul hal yang semakin mempermalukan saya seandainya saya terjungkal...
Begitu sampai di tempat parkir plasa tersebut, saya memutuskan untuk mengungkapkan kekhawatiran saya kepada teman-teman... dan saya harus menerima konsekuesinya... ditertawakan... Ya...apa boleh buat... Ya sudahlah... tapi akibatnya sungguh manis buat saya...teman-teman jadi lebih peduli dan perhatian dan tidak pernah membiarkan saya jalan-jalan sendiri walaupun itu sekedar untuk 'baca-baca' di Gramedia di plasa tersebut hehehe...  Bahkan itu terus berlanjut...meski saya sudah mahir pakai tangga berjalan hahaha....

===== 000 =====

Kawan, dalam kehidupan, kita tak jarang dihinggapi perasaan takut mendapat malu. Perasaan takut itu terkadang mendorong seseorang untuk tidak jujur pada orang lain. Ada banyak hal yang kemudian hari saya temui, tentang ketidakjujuran orang karena takut dipermalukan, seperti saat seseorang tidak terbiasa menggunakan suatu alat tertentu tetapi dia mengatakan bahwa dia biasa menggunakannya yang akhirnya mengakibatkan kerusakan pada alat tersebut karena salah penggunaan, tentang pengakuan seseorang bahwa dia mempunyai pacar saat SMA (padahal tidak) ketika teman-temannya bercerita tentang masa SMA mereka dulu dengan mantan masing-masing hanya karena malu, takut diperolok, sebab dia yang tidak jelek (kata dia sendiri lho) kok ga pernah punya pacar atau tentang seorang yang bercerita tentang rumahnya besar di pinggir jalan tapi kenyataannya rumahnya berada di gang sempit, atau seseorang yang takut mengakui kerabatnya yang kurang mampu, atau bahkan orangtuanya sendiri karena suatu keadaan tertentu, dll.
Bayangkanlah, jika kebohongan-kebohongan tersebut terungkap (entah dengan jalan bagaimanapun), bayangkanlah wajah teman-teman atau orang-orang yang padanya seseorang itu berlaku tidak jujur, bayangkanlah rasa malu yang nantinya orang itu tanggung, apalagi jika dia melakukannya dengan mantap dan meyakinkan kemudian ketahuan bahwa semua itu bohong belaka. Duh!!
Orang itu mungkin butuh waktu berhari-hari sebelum benar-benar berani tampil dan menemui mereka. Benar, ketika tahu kejadian atau keadaan sebenarnya, dia akan menjadi bahan ledekan semua orang. Dan itu akan menjadi momen yang benar-benar memalukan. Dia akan butuh waktu lama sebelum bisa kembali percaya diri di depan banyak orang. Jika sudah demikian, persoalannya  sudah bersifat emosional/mental yang jika tidak diatasi pada kesempatan pertama dapat membuat seseorang itu cenderung menghindar untuk tampil di muka umum.
Sebuah pelajaran bahwa ketakutan adalah hal wajar, tetapi janganlah ketakutan menghilangkan jati diri seseorang ( itu kata ayah saya hehehe...). Semua butuh proses, bahkan belajar menerima keadaan diri dan orang lain itu bagian dari proses ( itu masih kata ayah saya.... ). Jadi... be yourself sajalah... ( kata ayah saya... )
Ahhh... saya jadi merindukan ayah saya dan juga teman-teman saya itu...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...