Cerita ini terjadi beberapa tahun lalu, ketika pertama kali saya berada di Surabaya. Saat itu kami (saya dan teman-teman) merencanakan untuk keluar bareng-bareng. Setelah beberapa saat berembug, akhirnya diputuskan tujuan jalan-jalan adalah ke Tunjungan Plasa.
Haduuuh...saya agak dag dig dug juga waktu itu... Yang saya pikirkan cuma satu... Bisa ga ya saya naik pakai tangga berjalan??? Walaupun beberapa kali sebelum saya tinggal di Surabaya diajak juga oleh orangtua jalan-jalan dan menggunakan tangga berjalan...tapi kan beda...itu bersama orangtua saya sendiri dan dikomando saat kaki harus melangkah (hehehe...itu yang penting).
Mengungkapkan kekhawatiran saya kepada teman-teman... hmmm... agak ragu juga... jangan-jangan justru saya dipermalukan... ditertawakan... dsbnya... Tetapi kalau ga diungkapkan, ada kemungkinan timbul hal yang semakin mempermalukan saya seandainya saya terjungkal...
Begitu sampai di tempat parkir plasa tersebut, saya memutuskan untuk mengungkapkan kekhawatiran saya kepada teman-teman... dan saya harus menerima konsekuesinya... ditertawakan... Ya...apa boleh buat... Ya sudahlah... tapi akibatnya sungguh manis buat saya...teman-teman jadi lebih peduli dan perhatian dan tidak pernah membiarkan saya jalan-jalan sendiri walaupun itu sekedar untuk 'baca-baca' di Gramedia di plasa tersebut hehehe... Bahkan itu terus berlanjut...meski saya sudah mahir pakai tangga berjalan hahaha....
Haduuuh...saya agak dag dig dug juga waktu itu... Yang saya pikirkan cuma satu... Bisa ga ya saya naik pakai tangga berjalan??? Walaupun beberapa kali sebelum saya tinggal di Surabaya diajak juga oleh orangtua jalan-jalan dan menggunakan tangga berjalan...tapi kan beda...itu bersama orangtua saya sendiri dan dikomando saat kaki harus melangkah (hehehe...itu yang penting).
Mengungkapkan kekhawatiran saya kepada teman-teman... hmmm... agak ragu juga... jangan-jangan justru saya dipermalukan... ditertawakan... dsbnya... Tetapi kalau ga diungkapkan, ada kemungkinan timbul hal yang semakin mempermalukan saya seandainya saya terjungkal...
Begitu sampai di tempat parkir plasa tersebut, saya memutuskan untuk mengungkapkan kekhawatiran saya kepada teman-teman... dan saya harus menerima konsekuesinya... ditertawakan... Ya...apa boleh buat... Ya sudahlah... tapi akibatnya sungguh manis buat saya...teman-teman jadi lebih peduli dan perhatian dan tidak pernah membiarkan saya jalan-jalan sendiri walaupun itu sekedar untuk 'baca-baca' di Gramedia di plasa tersebut hehehe... Bahkan itu terus berlanjut...meski saya sudah mahir pakai tangga berjalan hahaha....
===== 000 =====
Kawan, dalam kehidupan, kita tak jarang dihinggapi perasaan takut mendapat malu. Perasaan takut itu terkadang mendorong seseorang untuk tidak jujur pada orang lain. Ada banyak hal yang kemudian hari saya temui, tentang ketidakjujuran orang karena takut dipermalukan, seperti saat seseorang tidak terbiasa menggunakan suatu alat tertentu tetapi dia mengatakan bahwa dia biasa menggunakannya yang akhirnya mengakibatkan kerusakan pada alat tersebut karena salah penggunaan, tentang pengakuan seseorang bahwa dia mempunyai pacar saat SMA (padahal tidak) ketika teman-temannya bercerita tentang masa SMA mereka dulu dengan mantan masing-masing hanya karena malu, takut diperolok, sebab dia yang tidak jelek (kata dia sendiri lho) kok ga pernah punya pacar atau tentang seorang yang bercerita tentang rumahnya besar di pinggir jalan tapi kenyataannya rumahnya berada di gang sempit, atau seseorang yang takut mengakui kerabatnya yang kurang mampu, atau bahkan orangtuanya sendiri karena suatu keadaan tertentu, dll.
Bayangkanlah, jika kebohongan-kebohongan tersebut terungkap (entah dengan jalan bagaimanapun), bayangkanlah wajah teman-teman atau orang-orang yang padanya seseorang itu berlaku tidak jujur, bayangkanlah rasa malu yang nantinya orang itu tanggung, apalagi jika dia melakukannya dengan mantap dan meyakinkan kemudian ketahuan bahwa semua itu bohong belaka. Duh!!
Orang itu mungkin butuh waktu berhari-hari sebelum benar-benar berani tampil dan menemui mereka. Benar, ketika tahu kejadian atau keadaan sebenarnya, dia akan menjadi bahan ledekan semua orang. Dan itu akan menjadi momen yang benar-benar memalukan. Dia akan butuh waktu lama sebelum bisa kembali percaya diri di depan banyak orang. Jika sudah demikian, persoalannya sudah bersifat emosional/mental yang jika tidak diatasi pada kesempatan pertama dapat membuat seseorang itu cenderung menghindar untuk tampil di muka umum.
Sebuah pelajaran bahwa ketakutan adalah hal wajar, tetapi janganlah ketakutan menghilangkan jati diri seseorang ( itu kata ayah saya hehehe...). Semua butuh proses, bahkan belajar menerima keadaan diri dan orang lain itu bagian dari proses ( itu masih kata ayah saya.... ). Jadi... be yourself sajalah... ( kata ayah saya... )
Ahhh... saya jadi merindukan ayah saya dan juga teman-teman saya itu...
Komentar