Langsung ke konten utama

Pulang...

Di tempat ini dulu saya bermain. Dulu, tidak banyak rumah-rumah berdiri. Ada pohon asam besar di tengah jalan itu. Kami sering memakainya sebagai pal saat kami bermain benteng-bentengan. Juga ada pohon keres di sebelah itu, dulu di situ ada pagar tembok pembatas antara rumah petak di mana kami dulu tinggal dan halaman rumah milik tetangga kami. Rumah petak itu sering kami sebut bedagan. Saya juga tidak terlalu paham mengapa disebutnya demikian. Mungkin karena rumah tersebut terdiri dari lima rumah berjajar dalam satu area yang di beri pagar tembok sebagai pembatas dengan halaman rumah di depannya. Kebetulan penghuni ke lima rumah berjajar tersebut adalah para Pegawai Negeri, baik itu guru, pegawai bank, dan petugas RS/Puskesmas.

Selain benteng-bentengan kami juga sering bermain petak umpet, layangan, kelereng dan lain-lain. Sampai kemudian banyak diantara penghuni bedagan tersebut pindah termasuk kami. Banyak diantara mereka pindah ke Perumnas baru, sedangkan kami pindah ke selatan, tepatnya ke gang 2. Itu rumah orangtua kami sendiri. Tidak banyak ruang dan halaman untuk kami bermain di sini. Karena di gang 2 ini, rumah-rumah lebih padat. Walaupun di belakang rumah dan agak jauh di samping rumah masih berupa lahan dengan banyak pohon bambu.
Secara pribadi, saat itu saya merasa ini bukan tempat yang menyenangkan untuk bermain. Saya kehilangan teman-teman saya di bedagan yang (bagi saya) lebih kompak dan bersahabat. Walaupun di sisi lain saya senang, karena kami punya rumah baru. Lebih panjang... Namun tidak ada kandang ayam buat ayam-ayam kami. Kata orangtua kami, banyak maling.... Dan orangtua kami waktu itu diperingatkan untuk berhati-hati dengan ayam-ayam kami oleh salah seorang tetangga yang sudah turun temurun tinggal di situ. Namun, maling tetap maling...tidak punya kesempatan di malam hari, mereka mengambilnya di siang hari ketika ayam di keluarkan dari kurungan. Karena saya yang bertanggung jawab dalam hal mengurus ayam, setiap sore, saat ayam-ayam kami semestinya kembali, saya yang harus mencari jika ada yang belum kembali. Dan beberapa kali saya menemukannya ada di kandang ayam tetangga. Sangat mudah untuk menemukan ayam kami diantara ayam tetangga, karena ada perbedaan ules (corak/warna bulu dan perawakan) diantara mereka.
Dalam jangka waktu yang cukup lama, banyak dari tetangga kami tidak bisa menerima keberadaan kami. Mereka menganggap kami beda karena keimanan kami. Saat itu saya masih SD dan saya ingat, orang akan melempar saya dengan batu, meludah atau membuang muka setiap kali saya lewat. Dan anak-anak mereka meneriaki saya dengan kata-kata yang tidak pantas untuk diucapkan maupun didengar oleh seorang anak. Saya tahu bahwa orangtua kami bukannya tidak tahu semua itu. Orangtua kami tahu. Namun ayah selalu berkata pada saya, "Jangan membalas perbuatan mereka. Kalau kamu membalas, kamu sama seperti mereka. Kalau kamu berpikir bahwa itu perbuatan yang tidak pantas yang dilakukan anak-anak atau pun orangtua mereka dan kamu membalas seperti apa yang mereka perbuat, kamu juga berbuat tidak pantas. Sama seperti mereka." Setiap kali saya bertanya (mungkin lebih tepat bila di bilang protes) mengapa mereka memperlakukan kami demikian.
Banyak hal yang saya ingat setiap kali saya pulang. Saya ingat, saya yang masih duduk di bangku SD selalu suka begadang tiap malam minggu tiap sebulan sekali untuk nonton wayang kulit atau wayang orang di TVRI (satu-satunya stasiun TV saat itu) bersama ayah saya, (saya ingat, saya suka sekali dengan tokoh Bima dan lakon Gatutkaca Gandrung), juga suka melihat siaran langsung Thomas dan Uber Cup rame-rame bersama ayah, ibu, kakak dan adik-adik saya, bertengkar karena memperebutkan sesuatu atau karena hal lainnya, makan Mie Siswo rame-rame atau sate kambing sebelah alun-alun. Saya ingat saat saya marah, saat saya menangis, saat saya penuh harapan, saat saya bahagia, kecewa dan sebagainya.... Dan (tetap) saya ingin pulang...
Namun saya tahu, bahwa saya harus meninggalkan tempat ini, tempat di mana saya lahir dan tinggal cukup lama. Mungkin di tempat saya (atau kakak dan adik-adik saya) berada sekarang ini, ada malaikat bernyanyi dan/atau iblis menari... saya tidak tahu... Tak ada tempat di dunia ini yang benar-benar pasti... Tetapi bagaimana pun harus bertahan... Dan berharap malaikat-malaikat menemani, membuat kami bernyanyi dan (selalu) mendapatkan setitik harapan...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...