Langsung ke konten utama

Bosan

Kadang kita merasa bosan menjalani aktivitas harian yang itu-itu saja. Merasa jenuh dan merasa bahwa hidup begitu hampa, setiap harinya melakukan aktivitas-aktivitas yang sama. Kadang kita juga merasa bahwa hidup begitu datar dengan aktivitas-aktivitas yang tidak berubah, hal-hal yang sama selalu kita lakukan dan tidak juga menemukan sesuatu yang dapat mengatasi kebosanan itu. Untuk mengatasi kebosanan, mungkin kita perlu melakukan hal-hal yang baru. Hal yang sebelumnya tidak biasa kita lakukan, seperti menambahkan jadwal untuk sekedar berolahraga ringan seperti jogging atau senam. Melakukan hal baru yang kita suka dan kita mampu lakukan.

Kalau suka dan mampu bermain gitar, kita bisa mengembangkan bakat dalam bermain gitar atau mungkin dalam hal bermusik lainnya. Atau jika suka dan mampu bermain sepak bola, menulis di blog, melukis, membuat suatu ketrampilan/kerajinan tangan dan sebagainya maka kita bisa mengembangkan hal-hal tersebut karena mungkin disitulah bakat kita. Jadi, mengembangkan bakat yang ada dalam diri kita membuat kita menjadi terbiasa dan mungkin ahli dalam setiap bakat yang kita punya dan dapat membantu mengatasi rasa bosan yang kita alami.
Kita bisa juga mencari suasana baru, misalnya pergi ke tempat-tempat yang sebelumnya jarang atau tidak pernah kita kunjungi. Suasana baru dapat diharapkan dan menjadi salah satu cara untuk mengatasi rasa bosan.
Dalam film Iron Man, pemeran Iron Man mengatakan bahwa semua orang memerlukan hobi. Memang, hobi merupakan sarana untuk mendapatkan kesenangan dan pastinya kita akan enjoy melakukannya karena kita menyukainya. Jangan tinggalkan hobi yang kita punya, asalkan bukan hobi dalam hal yang negatif dan melanggar aturan.
Adakalanya kita melakukan aktivitas karena terpaksa dalam melaksanakannya. Aktivitas dapat terasa menyenangkan bila kita menyukai apa yang kita lakukan.  Mencintai aktivitas yang dilakukan berarti kita senang dan nyaman dalam menjalani setiap aktivitas dalam keseharian kita. Kata bosan itu pun dapat diatasi bahkan dilenyapkan bila kita bisa mencintai aktivitas yang kita lakukan. Senang dengan aktivitas yang dilakukan, nyaman dengan aktivitas tersebut, dan bangga dengan aktivitas yang dilakukan berarti kita tidak akan bosan dengan aktivitas keseharian kita. Dengan mencintai aktivitas yang dilakukan berarti kita mampu mengatasi rasa bosan.
Mungkin ada cara yang lebih sederhana dan cara yang lebih menyenangkan untuk mengatasi rasa bosan. Semua kembali pada masing-masing individu dengan status masing-masing, apakah belum/sudah menikah, masih dalam studi/bekerja, bekerja atau tidak/belum bekerja. Jika dia seorang yang sudah menikah, sangat diperlukan pengertian dari pasangannya bahwa setiap individu bisa mencapai titik jenuh dan memerlukan suatu cara yang dapat mengeluarkannya dari keadaan itu selain tentunya bahwa tiap-tiap orang punya kebutuhan untuk bisa mengaktualisasikan dirinya (kata seorang Imam Biarawan yang pernah saya temui). Pengertian dari pasangan diperlukan supaya tidak terjadi fitnah, baik dari kalangan luar maupun intern (mertua atau ipar) jika terjadi suatu 'kekacauan' dalam pernikahan dan menyalahkan pihak lain. Misalnya, jika terjadi suatu perselingkuhan, pihak luar atau intern menyebarkan fitnah atau menuduh bahwa pasangan jarang dirumah dan tidak bisa membagi waktu dan bla, bla, bla yang belum tentu benar demikian pencetusnya atau ketika seorang anak mengalami masalah lantas saling menyalahkan. Pernikahan adalah komitmen dan tanggung jawab bersama. Tidak bisa meletakkannya pada satu pihak sehingga dengan bebas menyalahkan pihak lain ketika suatu keadaan tidak menyenangkan terjadi.
Dan celakanya, rasa bosan ini juga bisa menjalar pada hal-hal lain yang lebih besar: karier, perkawinan, bahkan bosan pada kehidupan itu sendiri.
Kita kerap menganggap rasa bosan sebagai sesuatu yang tidak penting.  Padahal, sesungguhnya kebosanan memberi pesan pada kita, bahwa kita sedang merasakan situasi tanpa makna yang begitu kuat.
Kebosanan tidak dapat disamakan dengan emosi lainnya, seperti gembira, sedih, takut, marah, dan terkejut. Atau rasa bersalah, cemburu, tersaingi, dan lain-lain. Ada dua jenis kebosanan. Pertama, kebosanan yang sederhana, yang rutin terjadi dan tidak butuh ‘diterjemahkan’. Yang kedua adalah kebosanan eksistensial,  yang bukan merupakan emosi atau suasana hati, bukan pula perasaan. Kebosanan eksistensial, adalah formulasi intelektual yang muncul bersamaan dengan depresi dan kesadaran diri yang tinggi, yang disebut  kondisi  refleksi diri.
Secara alamiah tubuh akan memberi sinyal bahwa kondisi sudah terasa jenuh atau membosankan. Simptomanya antara lain kurang semangat dalam beraktivitas, spirit hidup menurun, menghindari interaksi dengan orang lain atau cenderung mengisolasi diri, dan kualitas berpikir mengalami penurunan. Kalau sudah begitu, kita sendirilah yang harus pandai-pandai mengenali sinyal-sinyal tersebut, dan mencari jalan untuk mengatasi.
Mudahnya seseorang mengalami kebosanan atau rentan kebosanan merupakan suatu karakteristik kepribadian. Tingkat  kebosanan memiliki banyak komponen, yaitu perasaan jadi tidak nyaman dan terjadi perubahan berpikir, seperti kurang berminat pada apa pun, konsentrasi menurun, dan waktu terasa melambat. Sinyal lain adalah terjadinya perubahan pada tubuh, seperti merasa kelelahan, terjadi perubahan pada wajah (bosan, jutek), posisi tubuh cenderung membungkuk, serta terjadi perubahan perilaku yang membuat kita terdorong untuk  mengubah kegiatan yang biasa dilakukan, atau justru meninggalkan situasi yang membuat  kita bosan.
Rasa bosan yang membuat frustasi ini bisa ‘dibalik’ menjadi percikan kreativitas dan katalisator bagi pertumbuhan dan perubahan.  Kalau begitu,  apa makna kebosanan? Bosan adalah kondisi di mana pikiran menginginkan perubahan atau mendambakan suatu yang baru. Bosan juga bisa diartikan sebagai tanda untuk stop dari rutinitas sesaat, atau memberi warna baru dari keadaan yang monoton selama ini.
Bosan bisa memberi banyak manfaat. Merasa bosan memungkinkan pikiran berlari ke mana-mana. Sehingga kita bisa meningkatkan kreativitas dengan berbagai pemikiran baru yang tidak terduga. Penelitian bahkan membuktikan kalau melamun dan berimajinasi mampu memunculkan inspirasi.
Kita bisa mencari cara untuk menemukan hal baru, misalnya hobi atau minat yang tidak terduga sebelumnya. Jadi jangan takut dengan rasa bosan. Kalahkan dengan ketertarikan kita pada hal-hal yang baru.
Atau ketika bosan, cukup diam dan jangan lakukan apa-apa. Biarkan otak bermeditasi sebentar saja.  Sebenarnya hal itu baik juga bagi kesehatan. Karena kita membiarkan otak beristirahat dari berbagai hal yang mengganggu pikiran.
Celakanya, orang yang sulit atau kurang mampu menangkap sinyal bosan biasanya akan mengalami tekanan yang lebih tinggi atau lebih kronis. Karena itu, setiap individu harus terampil mengenali rasa bosan di dalam dirinya dan berusaha untuk mengatasinya. Rasa bosan memang tidak bisa dihindari, tapi diatasi.
Semoga rasa bosan kita mampu memberi inspirasi yang luar biasa!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...