Langsung ke konten utama

Sebuah Kisah

Hari ini saya menemukan sebuah artikel dari female.kompas.com tentang Kisah.Percakapan.Seorang.Bayi.dengan.Tuhan.di.Surga yang kebetulan saya temukan. Yang naskah aslinya dipublikasikan pada buku “Soulburger: The Taste of Pure Inspiration” karya Anthony Mohammed Robbins.

Suatu hari di surga, ada seorang bayi yang siap dilahirkan ke dunia. Namun, dia merasa amat bimbang dan memulai bertanya kepada Tuhan.
“Tuhan, aku masih kecil dan begitu lemah, mengapa aku harus lahir ke dunia? Siapakah yang akan melindungiku nantinya?’’ tanya si bayi.
Tuhan pun menjawab, “Dari sekian banyak malaikat-Ku, telah Kupilihkan satu untukmu. Dia akan merawat dan menjagamu.’’
Si bayi berkata lagi, “Tapi di surga ini, aku bisa bebas bernyanyi dan tersenyum sepanjang hari dan aku sangat bahagia jika boleh berada di sini selamanya.”
Tuhan kembali berkata, “Dia akan menyanyikan lagu untukmu setiap saat dan dia akan membuatmu selalu tersenyum. Kau akan merasakan cinta dan kasih sayang sepanjang hari dan itu pasti membuatmu bahagia.”
Namun, si bayi bertanya lagi, “Bagaimana aku mengerti bahasa mereka, sedangkan aku tidak pernah tahu bahasa apa yang mereka pakai?”
Tuhan pun menjawab, “Malaikatmu itu akan membisikkan kata-kata paling indah di telingamu dan akan mendampingimu sepanjang hari. Dengan kasihnya, dia akan mengajarimu berbicara dalam bahasa manusia.”
Si bayi lagi-lagi bertanya, “Bagaimana kalau aku ingin berbicara dengan-Mu?”
Tuhan menjawab, “Malaikatmu akan membimbingmu. Dia akan menengadahkan tangannya bersamamu dan dia akan mengajarimu cara berbicara kepada-Ku, yaitu berdoa.’’
Si bayi kembali menyidik, “Tapi, kudengar di bumi banyak orang jahat. Siapa yang akan melindungiku?”
Tuhan pun menjawab, “Tenang, malaikatku akan terus melindungimu meski harus mempertaruhkan nyawanya. Bahkan, dia akan melupakan kepentingan pribadinya demi menyelamatkanmu.’’
Entah mengapa, si bayi menjadi sedih, “Tuhan, aku sedih jika tidak bisa melihat-Mu lagi.”
Tuhan menjawab, “Malaikatmu akan mengajarimu tentang keagungan-Ku dan dia akan mendidikmu agar selalu patuh dan taat kepada-Ku. Dia akan selalu membimbingmu untuk selalu mengingat-Ku. Walau begitu, Aku akan selalu di dekatmu.’’
Sesaat, keheningan surga menerpa, tetapi suara-suara panggilan dari bumi terdengar sayup-sayup. “Tuhan, aku akan pergi sekarang, tolong sebutkan siapa nama malaikatku itu.”
Tuhan pun menjawab, “Namanya tidak begitu penting. Kamu akan memanggilnya dengan sebutan Ibu.”

Di bawah artikel ini ada beberapa comment dari pembaca, salah satunya sebuah pertanyaan, bagaimana dengan mereka yang lahir di pinggir rel / sungai? Bagaimana dengan mereka yang lahir karena wanita-nya adalah korban pemerkosaan? Siapa yang melindungi?
Pada dasarnya, karena memang Tuhan sang pemberi hidup mengijinkan seorang manusia memulai proses hidupnya dari rahim wanita, maka peran sebagai malaikat bagi si manusia baru ini adalah wanita / ibu. Dialah  yang merawat dan menjaganya dari sejak dalam kandungan, membuatnya merasakan cinta dan kasih sayang, melindungi meski harus mempertaruhkan nyawanya.
Tetapi, ada faktor yang perlu diperhatikan tentang wanita hamil, bahwa kebutuhan wanita hamil bukan hanya dari segi fisik tetapi juga psikis. Dari segi fisik, mungkin dengan memperhatikan kecukupan gizi, olahraga ringan dll. Selain itu, seorang wanita/ibu membutuhkan persiapan di sektor psikologis dan mental. Kondisi psikologis seorang ibu hamil, sebaiknya harus stabil.  Dalam artian tidak ada iringan tekanan atau stress selama menjalani kehamilan. Sebab, apabila ibu hamil mengalami stress, maka hal itu sangat tidak baik untuk kesehatan kedua belah pihak. Baik untuk ibu maupun sang bayi.
Ketika anak hadir, maka ada peran baru, ada tanggung jawab baru. Anak adalah komitmen seumur hidup yang wajib di asuh, di sayang dan di lindungi, tentunya bersama pasangan dalam keluarga yang normal. Dukungan seorang pria/ayah dari masa kehamilan hingga kehadiran anak akan membuat wanita/ibu siap secara psikologis-mental selain dukungan dari keluarga.
Jika kehamilan tidak diharapkan, maka biasanya ibu/wanita sangat membenci kehamilannya, sehingga tidak ada keinginan dari ibu untuk melakukan hal-hal positif yang dapat meningkatkan kesehatan bayinya. 
Pada kehamilan di luar nikah bisa saja pasangan masih belum siap dalam hal ekonomi dan kemungkinan terjadi kekurangsiapan ibu dalam merawat bayinya. 
Stres yang terjadi pada ibu hamil dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin. Janin dapat mengalami keterhambatan perkembangan atau gangguan emosi saat lahir nanti jika stres pada ibu tidak tertangani dengan baik. 
Faktor pemicu ibu hamil, bisa berasal dari diri ibu sendiri. Adanya beban psikologis yang ditanggung oleh ibu dapat menyebabkan gangguan perkembangan bayi yang nantinya akan terlihat ketika bayi lahir. Sedangkan pemicu stres yang berasal dari luar sangat bervariasi. Misalnya, masalah ekonomi, konflik keluarga, pertengkaran dengan suami, tekanan dari lingkungan (respon negatif dari lingkungan pada kehamilan). 
Peran keluarga bagi ibu hamil sangatlah penting, psikologis ibu hamil yang cenderung lebih labil dari pada wanita yang tidak hamil memerlukan banyak dukungan dari keluarga terutama suami. Misalnya pada kasus penentuan jenis kelamin dimana keluarga menginginkan jenis kelamin tertentu ibu hamil tersebut akan merasa cemas jika nantinya anaknya lahir dengan jenis kelamin yang tidak sesuai dengan harapan atau mengalami kecacatan fisik dan mental. Keluarga juga harus membantu dan mendampingi ibu dalam menghadapi keluhan yang muncul selama kehamilan agar ibu tidak merasa sendirian. Kecemasan ibu yang berlanjut akan mempengaruhi ibu dalam hal nafsu makan yang menurun, kelemahan fisik, mual muntah yang berlebihan.
Dalam menjalani proses itu, ibu hamil sangat membutuhkan dukungan yang intensif dari keluarga dengan menunjukkan perhatian dan kasih sayang.  
Wanita yang menjadi korban kekerasan, memunculkan efek psikologis berupa gangguan rasa aman dan nyaman di saat hamil. Kekerasan dapat terjadi baik secara fisik, psikis, ataupun sexual sehingga dapat terjadi rasa nyeri dan trauma. Efek kekerasan pada ibu hamil bisa dalam bentuk langsung maupun tidak langsung, yang langsung antara lain: trauma dan kerusakan fisik pada ibu dan bayinya, sedangkan efek yang tidak langsung adalah reaksi emosional, peningkatan kecemasan, depresi, rentan terhadap penyakit.
Aspek finansial juga dapat menjadi masalah jika misalnya ibu hamil yang suaminya belum bekerja, berhenti bekerja atau dengan penghasilan kurang, mungkin juga ibu harus tinggal dirumah kontrakan yang murah dan kumuh sehingga membuat ibu rentan terhadap penyakit.
Untuk menghemat pengeluaran terkadang wanita tersebut tidak dapat mengkonsumsi makanan yang lebih bergizi yaitu kaya akan protein, kalsium atau mineral yang lain yang dibutuhkannya dan ibu juga harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarga sehingga menyebabkan waktu istirahatnya  berkurang, tidak ada waktu dan biaya untuk memeriksakan kehamilannya
Jika kehamilan itu menjadi tidak mudah oleh karena berbagai hal di atas, yuk mari kita renungkan apa yang bisa kita lakukan...
Mungkin ada orang-orang dekat kita yang sedang mengalaminya atau kita sendiri yang mengalaminya?
Mungkin bagi para pria/ayah, bisa menjadi sadar bahwa hamil memang suatu hal yang alami, tetapi juga satu hal yang harus dipertanggungjawabkan dengan demikian bisa dengan sukacita menunjukkan perhatian dan kasih sayang pada sang wanita/ibu...
Bagi wanita yang menjadi korban kekerasan, psikis ataupun sexsual... tidak ada kata yang bisa terucap, tetapi Anda adalah wanita luar biasa, dalam keadaan Anda, Anda memilih untuk tetap menjadi malaikat bagi sang bayi...
Bagi yang sedang dalam masalah finansial, memang tidak mudah. Banyak fakta di sekitar kita yang kita temui, bahwa ketidakberdayaan finansial menghambat banyak hal, bahkan pelayanan dalam bidang kesehatan. Namun, sungguh luarbiasa jika Anda, tidak pantang menyerah untuk memberikan yang terbaik bagi si kecil. Sebab, Anda lah malaikat baginya....

Tuhan memberkati kita semua.
Amin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...