Langsung ke konten utama

Perlukah Menentukan Kriteria Untuk Calon Suami/Istri?

Bagaimana sih, kriteria pasangan ideal itu?
Kearifan lokal dalam memilih pasangan yang dianut oleh masyarakat Jawa jaman dulu tertuang dalam Bibit, Bebet, Bobot
Mengapa menentukan kriteria untuk calon suami/istri penting? Karena mereka adalah pasangan yang akan berkolaborasi seumur hidup. Jangankan pasangan hidup, mau beli baju saja punya kriteria dan selera masing-masing.. Harus ini, harus itu, dll.. Karena pentingnya isu ini, nenek moyang masyarakat Jawa sebenarnya sudah membuat rumusan yang sangat bijaksana. Yaitu Bibit,Bebet,Bobot. Sayangnya, kearifan lokal mengenai Bibit,Bebet,Bobot ini banyak yang salah menafsirkan.. Sehingga saat ini banyak tidak dipakai sebagai suatu acuan. 
"Bibit, bebet, bobot" adalah gen yang menurun dari orangtua kepada anak-anaknya. Hal ini terkait nilai, ajaran, norma yang diperoleh seorang anak dari agama, budaya, serta pengalaman masa lalunya. Semua hal ini akan menjadi blueprint (mindset) atau pola pikir yang berada dalam pikiran bawah sadar dan tercermin dalam perilaku dan kebiasaan seseorang.  
Coba telaah satu-satu makna Bibit Bebet Bobot yang ternyata begitu dalam makna nya..
Bibit artinya memang keturunan yang baik. Keturunan yang baik bukan berarti seseorang itu harus berasal dari keturunan bangsawan / raja. Keturunan yang baik artinya orang tua calon adalah orang baik-baik. Orang-orang yang selalu melakukan kebaikan dalam segala kesempatan. Dan kebaikan ini tidak bergantung dari kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang biasa yang hidupnya sederhana pun banyak yang memiliki keturunan yang baik. Bibit ini penting, karena asal-usul atau silsilah itu besar pengaruhnya kepada generasi berikutnya. Kalau keturunan orang baik semestinya ya baik dan bisa melahirkan generasi yang baik. Sebaliknya kalau keturunan orang yang jahat atau jelek sifatnya semestinya ya sulit menurunkan generasi yang baik. Bagaimana pun sifat seorang anak sebenarnya hanyalah gabungan dan kombinasi dari sifat kedua orang tuanya. Dalam bidang pertanian dan perternakan, bibit unggul memang besar manfaatnya karena bibit unggul itu banyak hasilnya dan bagus kualitasnya. Ilmu genetika sudah teramat maju. Tetapi untuk pemilihan bibit unggul dari manusia, ya cuma bisa dilihat dari anaknya siapa, cucunya siapa, keadaannya bagaimana. Maka betul adanya, kalau kita ingin melihat kualitas seorang calon, lihat bagaimana sikapnya terhadap orang tuanya. Ini makna Bibit.
Sedangkan mengenai bobot itu berhubungan dengan calon mantu atau calon jodoh tadi: sekolahnya apa, kerjanya di mana dan jadi apa, termasuk juga fisiknya tampan/cantik atau tidak. Apa mempunyai cacat dan seterusnya.
Bedanya jenjang pendidikan yang terlalu jauh bisa membuat sebuah hubungan berantakan. Walau tidak berbahaya, perbedaan tingkat pendidikan sering memengaruhi pola pikir seseorang, sehingga pasangan dengan jenjang pendidikan yang terlalu jauh akan sulit menyesuaikan diri. Masalah yang sering timbul dari perbedaan jenjang pendidikan ini adalah komunikasi dan sudut pandang yang sering menyebabkan pertengkaran. Sedangkan cacat fisik pada seseorang, biasanya seringkali mengacu pada cacat fisik yang disebabkan oleh karena faktor genetik yang bisa dijelaskan secara keilmuan. Maka, tak jarang kita melihat pasangan yang akan menikah berinisiatif melakukan pemeriksaan untuk menghindarkan hal-hal yang tdak diinginkan saat mereka menginginkan untuk mendapat keturunan.
Maksud dari bebet yaitu mengenai harta atau kekayaan. Kekayaan itu tidak bisa dipisahkan dari kekayaan orang tuanya, lebih-lebih untuk wanita.
Namun yang dilihat adalah yang laki-laki. Kenapa? Karena laki-lakilah yang berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Menjamin anak dan istrinya nanti!
Zaman sekarang memang bukan zaman kisah film India di tahun 90-an. Kisah cinta si kaya dan si miskin seringkali sukses dan bahagia, tetapi pada kenyataannya, perbedaan status sosial bisa menimbulkan banyak masalah dalam hubungan. Mulai dari orang tua yang tidak setuju, salah satu pihak sulit menyesuaikan gaya hidup dan pemikiran, juga masih banyak lagi masalah lain yang ditimbulkan dari perbedaan status sosial dan kekayaan yang terlalu jauh. Hal yang paling pahit biasanya jika status sosial pihak keluarga pria 'di bawah' keluarga wanita.  Tapi yang dimaksud kekayaan ini sifatnya longgar.. Sesuai persepsi tiap orang masing-masing. Kaya itu patokannya beda-beda.
Saat menikah, kita tidak hanya menikah dengan dia, tetapi juga keluarganya. Jika salah satu pihak keluarga tidak setuju, apalagi dua pihak tidak setuju, sangat sulit sebuah hubungan bisa mulus hingga pernikahan. Bagi wanita atau pria, memilih keluarga atau si dia adalah hal yang sangat sulit sekaligus menyakitkan. Keluarga ingin yang terbaik, sementara kita berpikir si dialah yang terbaik. Perlu ada kerelaan hati dan kompromi panjang jika kita ingin mempertahankan hubungan yang mulus hingga pernikahan.
Ada perbedaan yang bisa dikompromikan sehingga kehidupan asmara jadi lebih berwarna. Nah, ada juga perbedaan yang benar-benar tidak bisa diperjuangkan sekeras apapun usaha kita dan dia. Jika memang tidak ada yang bisa diperjuangkan dan itu membuat kita dan dia frustasi, kadang mengakhiri sebuah hubungan adalah jalan terbaik untuk mendapatkan hubungan lain yang lebih stabil dan cocok untuk kita.
Mengetahui dan memahami seseorang sebelum memasuki gerbang pernikahan jauh lebih penting. Daripada menunggu dan membicarakannya setelah kita berada dalam ikatan perkawinan. Komitmen dan kesepakatan sebaiknya dicanangkan sebelum semuanya terlambat. Sehingga kita masih memiliki waktu untuk berpikir ulang, apakah tetap melangkah atau mundur beberapa langkah lebih dahulu. 
Perkawinan adalah kesepakatan seumur hidup yang serius dan sakral, sehingga perlu dibangun dengan pondasi yang kokoh. Salah satunya adalah dengan mengetahui bibit, bebet, bobot dari masing-masing pihak.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...