Menjadi sarjana merupakan impian dan harapan mahasiswa. Gambaran dunia kerja, gaji yang berlimpah ruah serta masa depan yang cerah menanti si empunya gelar tersebut.
Ya... hingga saat ini menjadi sarjana mungkin masih manjadi dambaan dan harapan bagi sebagian besar orang, tentu dengan alasan dan motif yang beragam. Ini bisa dimaknai sebagai dorongan yang lebih tertuju kepada kepentingan pribadi, misalnya untuk menjadi kaya-raya, atau mendapat kedudukan dalam jabatan, melalui upaya dan tindakan yang menghalalkan segala cara. Atau sebagai motif yang didasari untuk melayani dan memberikan manfaat bagi orang lain, melalui upaya belajar keras dan penuh kesungguhan.
Perkembangan terbaru, berdasarkan Peraturan Presiden No. 8 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, sarjana (S1) dikategorikan sebagai jabatan teknisi atau analis (bukan dikategorikan sebagai ahli) yang berada pada level (jenjang) 6 (enam), dengan gambaran kualifikasi, sebagai berikut:
Jadi, lulus dan berhasil mengenakan toga kebanggaan di depan orang tua bukanlah akhir melainkan tahap awal. Pada mulanya, Anda dituntut menjadi seseorang yang mandiri dan mampu mencukupi kebutuhan sendiri tanpa perlu meminta lagi dari orangtua.
Namun kebanyakan dari 'lulusan baru' ini bingung apa yang harus dilakukan setelah lulus. Berada di lingkungan kampus, tidak selalu membuat seseorang tahu apa yang ingin dilakukan. Biasanya, pilihan ada dua, menciptakan pekerjaan sendiri atau cari pekerjaan
Jika menciptakan pekerjaan dan sudah merintisnya sebelum lulus, Anda mungkin sudah mengukir jalan sendiri menuju kesuksesan.
Jika cari pekerjaan, kebanyakan fresh graduate dihadapkan pada dilema baru. Tidak selalu lowongan pekerjaan yang ada sesuai dengan kriteria. Lebih lanjut, bisa jadi malah bidang yang saat ini ditekuni tidak lagi memberikan kenyamanan dan minat untuk menyelaminya.
Mungkin sejenak harus menenangkan pikiran, tarik napas panjang dan melakukan penilaian pada diri sendiri, pekerjaan atau profesi apa yang sebenarnya diinginkan...
Tanyakan pada diri, tentang minat untuk bekerja dengan kekhususan yang di ambil saat kuliah atau pikirkan hal apa yang disenangi diluar kekhususan kuliah. Hobi dan kegemaran informal pun bisa jadi referensi pencarian bidang minat yang paling diinginkan.
Yang pasti, mencari pekerjaan di mana pun, harus memiliki gairah (passion). Dengan adanya gairah dan minat yang besar, saat benar-benar terjun ke dalam pekerjaan yang diinginkan, pekerjaan tersebut tidaklah akan terasa sebagai beban untuk syarat mendapatkan gaji / penghasilan.
Dengan demikian kiranya cukup terang, sesungguhnya sarjana bukanlah orang sembarangan dan bukan sembarangan orang. Kepadanya dituntut untuk tersedia kapasitas kognitif tingkat tinggi serta memiliki tanggung jawab yang tidak hanya pada dirinya dan lingkungan dimana dia berada, tetapi juga memikul tanggung jawab yang hakiki yaitu kepada Sang Khalik dan diharapkan dapat menjadi integrated scholar, sarjana paripurna yang unggul dan mumpuni.
Ya... hingga saat ini menjadi sarjana mungkin masih manjadi dambaan dan harapan bagi sebagian besar orang, tentu dengan alasan dan motif yang beragam. Ini bisa dimaknai sebagai dorongan yang lebih tertuju kepada kepentingan pribadi, misalnya untuk menjadi kaya-raya, atau mendapat kedudukan dalam jabatan, melalui upaya dan tindakan yang menghalalkan segala cara. Atau sebagai motif yang didasari untuk melayani dan memberikan manfaat bagi orang lain, melalui upaya belajar keras dan penuh kesungguhan.
Perkembangan terbaru, berdasarkan Peraturan Presiden No. 8 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, sarjana (S1) dikategorikan sebagai jabatan teknisi atau analis (bukan dikategorikan sebagai ahli) yang berada pada level (jenjang) 6 (enam), dengan gambaran kualifikasi, sebagai berikut:
- Mampu mengaplikasikan bidang keahliannya dan memanfaatkan IPTEKS pada bidangnya dalam penyelesaian masalah serta mampu beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi.
- Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan tertentu secara umum dan konsep teoritis bagian khusus dalam bidang pengetahuan tersebut secara mendalam, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedural.
- Mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan analisis informasi dan data, dan mampu memberikan petunjuk dalam memilih berbagai alternatif solusi secara mandiri dan kelompok.
- Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas pencapaian hasil kerja organisasi.
Jadi, lulus dan berhasil mengenakan toga kebanggaan di depan orang tua bukanlah akhir melainkan tahap awal. Pada mulanya, Anda dituntut menjadi seseorang yang mandiri dan mampu mencukupi kebutuhan sendiri tanpa perlu meminta lagi dari orangtua.
Namun kebanyakan dari 'lulusan baru' ini bingung apa yang harus dilakukan setelah lulus. Berada di lingkungan kampus, tidak selalu membuat seseorang tahu apa yang ingin dilakukan. Biasanya, pilihan ada dua, menciptakan pekerjaan sendiri atau cari pekerjaan
Jika menciptakan pekerjaan dan sudah merintisnya sebelum lulus, Anda mungkin sudah mengukir jalan sendiri menuju kesuksesan.
Jika cari pekerjaan, kebanyakan fresh graduate dihadapkan pada dilema baru. Tidak selalu lowongan pekerjaan yang ada sesuai dengan kriteria. Lebih lanjut, bisa jadi malah bidang yang saat ini ditekuni tidak lagi memberikan kenyamanan dan minat untuk menyelaminya.
Mungkin sejenak harus menenangkan pikiran, tarik napas panjang dan melakukan penilaian pada diri sendiri, pekerjaan atau profesi apa yang sebenarnya diinginkan...
Tanyakan pada diri, tentang minat untuk bekerja dengan kekhususan yang di ambil saat kuliah atau pikirkan hal apa yang disenangi diluar kekhususan kuliah. Hobi dan kegemaran informal pun bisa jadi referensi pencarian bidang minat yang paling diinginkan.
Yang pasti, mencari pekerjaan di mana pun, harus memiliki gairah (passion). Dengan adanya gairah dan minat yang besar, saat benar-benar terjun ke dalam pekerjaan yang diinginkan, pekerjaan tersebut tidaklah akan terasa sebagai beban untuk syarat mendapatkan gaji / penghasilan.
Dengan demikian kiranya cukup terang, sesungguhnya sarjana bukanlah orang sembarangan dan bukan sembarangan orang. Kepadanya dituntut untuk tersedia kapasitas kognitif tingkat tinggi serta memiliki tanggung jawab yang tidak hanya pada dirinya dan lingkungan dimana dia berada, tetapi juga memikul tanggung jawab yang hakiki yaitu kepada Sang Khalik dan diharapkan dapat menjadi integrated scholar, sarjana paripurna yang unggul dan mumpuni.
Komentar