Langsung ke konten utama

Sopan Santun


Hari ini saya di buat keki dengan tukang yg sedang bekerja di rumah saya. Tukang tersebut membuat janji dengan seseorang dan bersepakat bertemu di rumah saya tanpa sepengetahuan saya.

Saat itu hari belum terlalu siang. Saya sedang menerima telepon dari adik saya. Tiba-tiba seorang asing masuk rumah dan melintas 'lenggang kangkung' melewati saya. Tentu saja saya terkejut, segera menegur orang tersebut dan spontan bertanya, mau bertemu siapa dan siapa Anda. Orang tersebut cukup 'glagepan' juga sebenarnya... Namun  saya jadi keki ketika kemudian si tukang tersebutlah yang dengan PDnya menyuruh orang tersebut masuk, sebelum saya berkata atau bertanya apa-apa lagi.

Telepon belum saya tutup dan adik saya mendengar teguran saya terhadap orang tersebut dan bertanya ada apa. Dengan nada agak keras yang memang saya sengaja, saya katakan bahwa ada orang masuk tanpa permisi ke rumah untuk bertemu tukang yang lagi kerja di rumah saya.

Memang akhirnya si orang tersebut ketika pulang meminta maaf, tetapi dia berdalih bahwa dia mengenal tukang tersebut. Tetapi saya katakan padanya, bahwa dia mengenal si tukang tapi saya tidak mengenalnya dan tukang tersebut sedang bekerja di tempat saya. Jadi kalau saya menegurnya itu karena dia yang tidak saya kenal tiba-tiba masuk ke rumah saya tanpa permisi. Dan luarbiasanya orang tersebut tetap mempertahankan alasannya bahwa dia mengenal tukang tersebut.

Kawan, sebenarnya bapak ini sudah sangat cukup umur untuk bisa mengerti tentang sopan santun. Tetapi, perilaku yang di perlihatkannya tidak lebih baik dari anak tetangga saya yang baru duduk di sekolah dasar. Dia selalu mengetuk pintu, saat datang ke rumah. Atau jika di rasa mungkin saya tidak mendengar ketukannya, dia selalu membarengi dengan memanggil saya.

Dari peristiwa ini, saya jadi kurang 'sreg' juga dengan si tukang. Memang suami saya berlaku baik terhadapnya, sama seperti perlakuan suami terhadap tetangga yang lain. Tetapi bukan berarti dia boleh seenaknya sendiri di rumah saya.

Sejatinya saya tidak habis pikir dengan peristiwa ini, bagaimana seorang dewasa justru tidak mengerti tentang tata krama, sopan santun, etiket atau apa pun itu namanya
.
Walaupun kesopanan bersifat relatif dan berbeda-beda di berbagai tempat, lingkungan atau waktu, tetapi ada norma sopan santun yang umum untuk diterapkan, terutama dalam bermasyarakat, seperti menghormati orang yang lebih tua, menerima sesuatu selalu dengan tangan kanan dsbnya.

Sopan santun merupakan suatu tingkah laku yang menjunjung tinggi hak, kearifan dan keutamaan serta memiliki nilai yang natural. Sopan santun juga dikatakan sebagai konsep idealisme. Sopan santun juga merefleksikan kepribadian yang penuh cinta dan tenggang rasa.

Dalam pelaksanaannya sopan santun merupakan sikap yang ditujukan dari apa yang dirasakan, dilihat dan dialami dalam kondisi dan situasi apapun. Sikap ini, biasanya tercermin dalam beberapa perilaku, seperti senyum, mengangguk, berbicara, hormat dan taat pada peraturan. Hal-hal tersebut sebagian besar dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia.

Contoh kecil, di Indonesia, mengucapkan salam atau bersalaman masuk dalam batasan atau definisi satu sopan santun yang berlaku. Jadi, apa sulitnya mengucapkan salam atau 'kulonuwun' (bhs Jawa), atau permisi (bhs Indonesia) saat masuk rumah orang? Apa sulitnya untuk menghormati hak dari pemilik rumah untuk mempersilahkan, menerima orang asing masuk rumahnya dan tidak berlaku seenaknya, cukup sebatas kewajiban dan kewenangannya sebagai pekerja/tukang di rumah yang di garapnya?

Memang betul, jika di sebutkan bahwa kesopanan menunjukkan kualitas diri. Mereka yang dibesarkan di lingkungan yang memberikan dan mengajarkan mereka kesopanan akan menjadi orang dewasa yang dapat menghormati dan menghargai orang lain. Dan mereka pun pantas dan layak pula dihormati dan dihargai.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...