Langsung ke konten utama

Kematian Tak Dapat Di Hindari


Belum genap 40 hari yang lalu saya kehilangan seorang ayah. Ya... ayah telah kembali pada Sang Pencipta karena satu penyakit yakni infeksi darah. Infeksi darah ini adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh karena adanya infeksi lain dari tubuh penderita. Bisa karena infeksi saluran kencing, infeksi ginjal, dll.

Jauh sebelum saat itu terjadi, secara pribadi saya telah merasakan bahwa sesuatu akan terjadi pada ayah. Saya merasa tidak nyaman dan tidak tenang dengan perasaan ini. Dan itu menjadikan saya selalu merasa kuatir yang amat sangat bila mendengar ayah sakit, apalagi sampai masuk RS. Kekuatiran saya tersebut terkadang seperti "dikecele'kan" berkali-kali, karena berkali-kali ayah hanya sakit sebentar atau andai masuk RS pun hanya sebentar kemudian boleh pulang dan di anggap sebagai penyakit yang jauh dari maut, begitu kata dokter. Saat itu, sikap santai suami saya dalam merespon kabar mengenai ayah, saya rasakan sangat menjengkelkan. Karena saya betul-betul merasa, sesuatu akan terjadi, walaupun saya tidak tahu apa itu.

Sampai suatu hari, ketika kami berlibur ke Jawa Tengah karena kebijakan pemerintah untuk cuti bersama lebaran, kami mendapat kabar bahwa ayah masuk RS. Saya harus menahan keinginan saya untuk segera pulang, karena seorang saudara suami baru akan tiba hari itu, entah jam berapa... (o ya,di Jawa Tengah, kami memang berada di kediaman salah satu keluarga suami, tepatnya di Wonogiri).

Baru keesokan harinya, kami berangkat dari Wonogiri. Perasaan saya gembira luar biasa, karena saya akan bertemu ayah, seolah lama kami tidak berjumpa. Suatu rasa yang sebenarnya mengherankan buat saya...
Hari sudah malam, ketika kami sampai di Probolinggo, Jawa Timur. Dengan pertimbangan itu dan mengingat ibu di rumah tidak berteman, kakak dan adik saya menyarankan untuk langsung pulang ke rumah, baru esok hari berangkat ke RS bersama ibu.

Esok harinya kami ke RS. Keadaan ayah sudah lebih baik. Melihat kondisi demikian, suami tidak mengijinkan saya untuk tinggal beberapa hari di Probolingo, sekedar menemani ayah selama perawatan. Menurutnya besok pasti sudah boleh pulang. Ya... memang benar, bahwa besok ayah sudah di perbolehkan pulang. Ada kelegaan mendengar kabar tersebut.

Dua minggu setelah ayah keluar RS, ayah masuk RS lagi. Kali ini saya menemani ayah selama perawatan di RS. Karena ada kesangsian atas diagnosa dokter, setelah kondisi ayah secara umum membaik, kami tidak melakukan anjuran dokter untuk tindakan operasi pada ayah. Kami berencana untuk membawa ayah ke Surabaya untuk mengetahui penyakit ayah sebenarnya.

Sebelum rencana kami terlaksana, seminggu setelah ayah pulang dari RS, kondisi ayah drop lagi. Kami membawa ayah ke salah satu RS swasta di kota Probolinggo. Dari situ, kami mengetahui bahwa ada perbedaan diagnosa dengan dokter di RS sebelumnya. Kondisi ayah saat itu lebih lemah dari sebelumnya. Setelah dua hari di RS itu, dokter memutuskan untuk merujuk ke RS di Surabaya. Tetapi RS yang ingin kami jadikan rujukan posisi full booked alias tidak ada tempat untuk pasien baru. Jadilah ayah masuk ke salah satu RS lain di Surabaya. Sayang sekali, jumlah dokter dan perawat di tempat ini tidak sebanding dengan jumlah pasien yang ada dan yang terus berdatangan. Bahkan menurut seorang dokter, satu dokter harus menangani setidaknya empat pasien sekaligus. Dan ayah kami terlantar cukup lama dalam kondisi yang semakin melemah. Sampai akhirnya seorang kawan datang dan membantu kami dengan menghubungi seseorang dari pihak RS untuk menyegerakan ayah kami. Segera setelah itu, barulah dilakukan pemeriksaan dan tindakan-tindakan berikutnya terhadap ayah kami, walaupun ada jeda yang cukup panjang antara satu tindakan dengan tindakan berikutnya.

Mengingat kondisi ayah yang semakin melemah, maka kami memutuskan untuk memindah ayah dari RS itu ke RS yang lain di Surabaya. Dengan melalui berbagai proses, maka pindahlah ayah kami. Di RS ini mulai terlihat perkembangan bagus pada kondisi ayah. Dan kami pun mulai berharap banyak. Ketika hampir dua minggu ayah di rawat, dokter memberi isyarat bahwa tidak lama lagi ayah boleh pulang. Tetapi dua hari sebelum hari itu datang, tiba-tiba ayah kembali drop. Ini jauh lebih parah dan mengkhawatirkan. Selama dua hari tiga malam berada pada kondisi antara sadar dan tidak. Sampai pada akhirnya, Senin 23 September 2013 pukul 04.00 WIB, ayah menghembuskan nafas yang terakhir. Sedih? Ya!! Tetapi ada satu rasa syukur dalam hati, karena justru itu terjadi di saat ibu selesai membisikkan kalimat doa kepada ayah. Begitu kata Amin terucap, saat itu pula nafas ayah terhenti. Begitu tenang... ya sangat tenang... 

Kawan, hari ini saya berkesempatan sharing dengan teman lama saya. Teman tersebut berkata, bahwa jika memang sudah saatnya Tuhan mengambil, jika Tuhan menganggap tugasnya di dunia sudah selesai, pasti ada 'jalarane' atau penyebab yang menjadikan rencana Tuhan itu terjadi.

Mungkin ketika seorang yang kita cintai sakit, kita akan mengupayakan suatu kesembuhan baginya. Ke dokter, check up sampai ke RS. Tetapi dalam proses tersebut, mungkin kita akan menemukan berbagai kendala. Mulai dari diagnosa dokter yang salah, kendala pada pengaturan waktu cuti jika kita seorang yang bekerja di instansi tertentu entah pemerintah atau swasta, RS yang penuh hingga tidak lagi bisa menerima pasien, RS dengan tenaga medis yang terbatas, dsbnya. Di sinilah, kita lambat laun akan mengerti, bahwa sebaik apapun upaya manusia untuk menyelamatkan seorang yang dicintainya, jika Tuhan berkehendak lain maka kehendakNya pasti terjadi.

Ya...kematian tidak dapat dihindari. Kita tak tahu kapan ia datang. Tentang waktu kematian, itu adalah rahasia Tuhan. Tidak ada yang tahu kapan, di mana dan bagaimana seseorang akan mati. Walaupun adakalanya jika seseorang hendak sampai pada ajalnya, keluarga terkadang mendapatkan pertanda, misalnya lewat mimpi atau kelakuan orang yang akan meninggal itu yang tidak seperti biasanya dan sebagainya. Dan macam-macam pula yang menjadi sebab yang akan mendatangkan kematian manusia. Begitulah, bahwa pada akhirnya kehendak Tuhanlah yang terjadi.




"Terimakasih ayah, untuk segenap cinta dan kasih sayang, didikan dan ajaran, nasehat dan teguran dan segala yang berusaha ayah berikan pada kami anak-anakmu. Kami sadar, bahwa dalam keterbatasanmu, engkau selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada kami. Moga Tuhan memberi ayah kebahagiaan kekal di surgaNYA. Amin"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...