Saat menghadapi fase tersulit, di mana terdapat cobaan yang menimpa dan waktu menjadi cukup berat untuk di lewati, tetapi kita akan dengan bangga memperlihatkan masa-masa itu, yang kita lalui bersama-sama dengan kuat dan tanpa ragu karena kita memiliki banyak orang yang siap melalui masa-masa sulit bersama dan siap membantu.
Saling menyemangati agar bangkit dari keterpurukan dan mencoba untuk memulai yang baru. Satu kata sederhana yang diucapkan dengan tidak ragu, akan meruntuhkan semua hal yang tengah dirasakan. Satu kata sederhana, bisa mengubah segalanya.
Mengerti apa arti kekeluargaan, mengerti apa artinya sebuah tangungjawab. Tanggungjawab untuk mendidik, untuk menghargai, untuk mendukung dan melindungi, untuk peduli dan menyayangi.
Betapa pentingnya kekeluargaan dan betapa kekeluargaan menjadi kekuatan utama dalam menghadapi rintangan yang ada. Kekeluargaanlah yang menyatukan setiap orang. Tanpa itu semua, mungkin kita hanya akan menjadi manusia individualis.
Ada tradisi lama bangsa Indonesia yang mulai pudar yaitu Gotong Royong. Gotong royong selain menjaga silahturahmi, dapat membangkitkan kembali gairah masyarakat untuk bekerjasama dan memiliki rasa kekeluargaan.
Bung Karno mengatakan, ”Kekeluargaan adalah suatu faham yang statis, tetapi gotong-royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota terhormat Soekardjo satu karyo, satu gawe.”
”Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama!”
Para pemimpin memberi contoh dan teladan dan bukan hanya orasi, hidup sederhana, sama rata sama rasa antara pemimpin dan rakyat, puncaknya Soekarno mengumumkan perang pada neo-kolonialis dan neo-kapitalisme yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi-pribadi kelompok atau ideologis daripada kepentingan rakyat semesta.
Saat ini, tanpa disadari, kita telah dimasukkan dalam sekat-sekat dan kotak-kotak identitas, kotak-kotak si miskin dan si kaya. Memberi label Gakin Keluarga Miskin dan untuk jatah makannya diberi stempel Raskin (beras untuk si miskin).
Untuk si miskin mendapat layanan kesehatan dan pendidikan harus mendapat pengakuan kemiskinannya mulai dari RT, RW, Kelurahan, sampai Kecamatan dan hal ini juga sama untuk mendapatkan Tunjangan Kemiskinan yang disebut BLSM, yang dulu disebut BLT (Bantuang Langsung Tunai).
Model pemberian uang langsung pada keluarga miskin, masyarakat yang tidak beruntung dijadikan pengemis untuk diberi sedekah, tentu saja hal yang seperti ini adalah proses menghancurkan harkat dan martabat, menghancurkan etos kerja.
Jaman Orde Baru, keluarga yang belum beruntung ini diberi nama Pra sejahtera, dan akan meningkat menjadi Sejahtera dengan mengikutsertakan mereka dalam program-program mulai dari padat karya membangun jalan desa, irigasi sawah, bantuan ternak, bantuan kelompok-kelompok yang sifat nya bergulir, sehingga membangkitkan etos kerja, membangun kebersamaan, membangun gotong royong antar keluarga, antar desa, antar warga kota dan seterusnya. Peran serta masyarakat pun juga dibangun melalui PKK, ada Posyandu, ada Dasa Wisma, yang semua ini adalah membangun gotong royong, juga ada Koperasi, KUD, ada kontak tani, yang memberikan penyuluhan pertanian.
Punahnya jiwa kekeluargaan dan gotong royong juga menyebabkan timbulnya budaya kekerasan, bentrok fisik, saling hujat bukan hanya terjadi di akar rumput, juga terjadi kekerasan di gedung-gedung wakil rakyat, gedung Dewan yang seharusnya steril dari budaya kekerasan.
Barangkali, hari ini kita patut meluangkan waktu untuk merenung, apakah kita masih memiliki semangat kekeluargaan atau justru telah menjadi manusia individualis...
Mulailah dari keluarga. Dari organisasi terkecil inilah pembangunan suatu bangsa di mulai. Keluarga lah ukuran kesejahteraan yang melahirkan manusia-manusia berkualitas. Sebagai pencentak manusia berkualitas maka keluarga juga sebagai faktor pendorong Gotong Royong dan seharusnya keluarga menjadi kekuatan bangsa dan Negara.
Komentar