Langsung ke konten utama

Kenali Dan Sayangi

Dalam sejarah manusia, perempuan di ciptakan Tuhan untuk menjadi pendamping pria. Di ciptakan dari tulang rusuk pria. Tulang rusuk berfungsi sebagai kerangka yang menyusun kekuatan tubuh. Jadi perempuan itu juga bagian yang dapat membangun dan menegakkan kehidupan. Dengan tulang rusuk maka banyak organ-organ yang lunak terlindung. Sama halnya dengan perempuan, ia dapat menjaga kehidupan keluarganya, anak-anaknya yang masih lemah.

Perlakukanlah perempuan secara baik-baik. Hal ini untuk menjaga agar jiwa perempuan tidak patah,sehingga dapat menjalankan fungsi utamanya sebagai ibu, istri, maupun sebagai insan perempuan itu sendiri. Karena tugasnya itulah perempuan diberi kekuatan oleh Allah.
Allah telah memberikan kekuatan pada perempuan, karena ditangannya akan terlahir penerus keturunan. Anak yang baik terlahir dari kehebatan seorang ibu yang mengasuh dan membesarkannya.
Di balik kesuksesan suami, ada istri yang hebat yang mendampinginya.
Sejatinya perempuan harus di perlakukan dengan baik, agar jiwanya terbangun dengan kasih sayang dan kesabaran. Kasih dan sayang sepanjang waktu dalam mendampingi anak-anak dan keluarganya tanpa perasaan tersakiti. Sehingga di harapkan perempuan dapat menjalankan fungsinya dengan baik di dalam keluarga maupun masyarakat.
Namun adakalanya, pria tidak tahu bagaimana memperlakukan perempuan dengan baik. Dan dengan sengaja atau tidak, telah menjadikan jiwa perempuan patah dan menimbulkan perasaan tersakiti. Sebagian besar perempuan akan membicarakan dulu pada pasangannya mengenai keluhannya. Bila tidak ada tanggapan, ada perempuan yang memilih untuk meninggalkan pasangannya atau melakukan perselingkuhan. Merasa stres dan menemukan orang baru yang dianggap lebih mengerti dirinya, itulah yang sering menjadi alasan. Tetapi ada banyak pula yang bertahan dalam perkawinan oleh karena prinsip dan keyakinan untuk tetap memegang kesucian dan kesetiaan dalam hidup perkawinan.
Menurut sebuah penelitian dari Universitas di Kanada, alasan di balik perselingkuhan untuk kaum pria adalah tingkat seksual yang semakin besar. Beda dengan perempuan. Ketidakpuasan pada kadar hubungan yang dimilikinya yang seringkali memicu terjadi perselingkuhan. Hubungan yang dimaksud di sini bukan sekedar seks tapi juga kedekatan emosional dengan pasangan, merasa dianggap atau dipedulikan, mendapat perhatian dan merasa dihargai sehingga perempuan merasa nyaman. Walaupun tak jarang, masalah ekonomi juga menjadi penyebab perceraian.
Jadi, ada baiknya bahwa pria pun belajar menjadi pribadi yang lebih baik, pribadi yang rajin, dan yang tahu bagaimana memperlakukan perempuan dengan baik. Turut mendukung perempuan memposisikan dirinya sebagai subyek, sebagai individu yang yang memiliki kuasa atas dirinya dan kendali akan potensi serta kualitas yang dimilikinya. Jika potensi ini disadari dan diarahkan akan memberi hal positif bagi dirinya. Bahkan, bagi orang lain dan lingkungannya. Perempuan yang memposisikan dirinya sebagai subyek adalah perempuan terhormat yang merupakan anugerah terbesar bagi keluarganya, masyarakatnya, dan bagi dunia tempat kita berada.


KENALI DAN SAYANGI 'TULANG RUSUKMU'



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebutuhan Imam dalam Gereja Katolik: Panggilan yang Semakin Langka

Gereja Katolik, sebagai umat Allah yang berziarah di dunia, sangat bergantung pada pelayanan para imam dalam mewartakan Injil, merayakan sakramen, dan menggembalakan umat. Namun, dewasa ini, Gereja menghadapi tantangan serius: semakin berkurangnya jumlah imam, sementara kebutuhan umat terus meningkat. Fenomena ini menjadi panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik untuk merenungkan kembali pentingnya imamat dan peran kita dalam mendorong tumbuhnya panggilan suci ini. Realita Krisis Panggilan Data dari berbagai keuskupan menunjukkan tren penurunan jumlah seminaris dan imam baru. Di banyak wilayah, satu imam harus melayani beberapa paroki sekaligus, sehingga mengurangi intensitas pembinaan umat secara personal dan pastoral. Sementara itu, jumlah umat terus bertambah, kebutuhan pelayanan sakramen tetap tinggi, dan tantangan pastoral semakin kompleks di tengah perubahan zaman. Peran Imam dalam Kehidupan Gereja Imam bukan sekadar pemimpin liturgi, tetapi pribadi yang hadir sebagai alter C...

Dunia Ini Panggung Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara adalah frasa yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It . Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang kadang-kadang disebut sebagai tujuh usia manusia : bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon , dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Melihat, Mengerti, dan Percaya: Sebuah Perjalanan Kesadaran

Setiap manusia menjalani proses kehidupan yang tak lepas dari pengalaman, pencarian makna, dan pencapaian keyakinan. Dalam proses ini, tiga kata sederhana — melihat , mengerti , dan percaya — menyimpan kekuatan besar yang mampu mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. "Melihat" bukan sekadar menggunakan indera penglihatan. Ia merupakan simbol dari kesadaran awal , di mana kita mulai menyadari adanya sesuatu di hadapan kita. Melihat bisa bermakna menyaksikan peristiwa, mengenali tanda-tanda kehidupan, atau membaca situasi secara lahiriah. Namun, tidak semua yang kita lihat mampu kita pahami. Ada kalanya kita memandang sesuatu, tetapi tidak menangkap makna di baliknya. Oleh karena itu, melihat hanyalah awal — sebuah undangan untuk menggali lebih dalam. Setelah melihat, langkah berikutnya adalah mengerti . Ini adalah tahap di mana pikiran mulai mencerna, hati mulai merasa, dan jiwa mulai bertanya. Mengerti adalah jembatan antara pengamatan dan kebijaksanaan. Menger...