Siapa sih yang ga pernah bohong? Rata-rata atau mungkin semua dari kita pernah. Efek dari kebohongan itu, juga bisa kita rasakan. Bisa juga dirasakan (bhs Jawanya: ngefek) oleh / terhadap mereka di luar kita. Adakalanya, saat seseorang melakukan kebohongan, maka seseorang tersebut akan melakukan kebohongan berikutnya untuk menutupi kebohongan sebelumnya dan begitu seterusnya.
Garis antara kebohongan dan kebenaran sangatlah tipis. Contoh: jika seorang tetangga mengatakan bahwa ia keturunan seorang Tsar Rusia Nikolai II. Maka bisa dikatakan ia berbohong. Kebohongannya bisa dibuktikan dengan penelitian DNA, selain itu dalam sejarah menyebutkan bahwa Tsar Nikolai II beserta keluarganya dibantai habis oleh kaum komunis. Namun, jika ia berkata masih keturunan Rusia, mungkin saja benar. Siapa tahu nenek moyangnya memang benar ada yang berasal dari Rusia. Jika seorang berkata bahwa ia seorang profesor, padahal bukan, maka ia sengaja melakukannya untuk pamer. Namun jika seorang anggota Kepolisian atau Satuan Khusus berkata bahwa seorang target menurut data-data berada di kota A, padahal tidak, maka ini namanya kesalahan dan bukan bohong. Kecuali ia melakukannya dengan sengaja sebagai suatu siasat, maka namanya taktik disinformasi.
Pada dasarnya, setiap orang memiliki apa yang disebut pertahanan diri untuk melindungi diri secara psikologis. Sistem pertahanan psikologis ini tergantung bagaimana seseorang menggunakannya. Jika seseorang tahu namanya akan hancur, supaya tidak down grade, ya bertahan dengan mengatakan hal bohong.
Mekanisme pertahanan diri seperti ini sangat normal dan manusiawi. Tapi memang, ada yang penggunaannya tidak tepat. Untuk seorang yang ditangkap karena melakukan sesuatu, hal yang wajar jika reaksi pertama pasti akan menolak. Kalau kemudian terbukti, ya bisa saja menyerah, tapi pasti mati-matian membela diri dulu.
Dalam melakukan sesuatu, secara psikologis seseorang pasti memiliki integritas dan suara hati nurani. Pasti ada suara hati yang mengatakan ini salah, itu benar. Namun, ada juga yang memilih untuk membunuh integritas dan suara hati nuraninya.
Jadi... mau bohong, mau jujur, kita lah yang menentukan. Tentu ada akibat dari apa pun keputusan kita. Entah kepada diri kita sendiri atau orang lain..
Komentar